Kamis, 13 November 2014

STILISTIKA

STILISTIKA:
Keindahan suatu karya sastra tidak terlepas dari kemahiran pengarang dalam memilih kata yang akan digunakannya untuk menjelmakan gagasan-gagasannya dalam sebuah karya sastra, salah satunya adalah cara pengarang dalam memain-mainkan bahasa. Pemilihan bahasa oleh seseorang dalam karya sastranya memiliki corak dan gaya tersendiri yang berbeda dengan pengarang yang lain, sehingga masing-masing karya sastra yang dihasilkan memiliki keindahan bahasa tertentu. Dalam hal ini disebabkan oleh pengarang mempunyai kuasa dalam memilih bahasa yang akan digunakan untuk mengekspresikan apa saja yang ia rasa,lihat dan dengar, sehingga karya yang dihasilkan menjadi sesuatu yang khas dan berbeda.
Bahasa sastra bisa disebut sebagai bahasa yang khas dan istimewa. Hal tersebut mengandung arti bahwa keistimewaan struktur bahasa itu secara luas dapat membatasi dan sekaligus menciptakan potensi karya sastra dalam bahasa tersebut. Keistimewaan bahasa dalam sastra terjadi karena adanya konsep licentia poetica (kebebasan penyair atau pengarang dalam menggunakan bahasa).
Stilistika (Stylistics) mengarah pada pengertian studi tentang style (gaya). Stilistika meneliti penggunaan bahasa dalam wacana sastra secara khas dengan segala ciri-ciri yang membedakan atau mempertentangkannya dengan wacana nonsastra dan meneliti penyimpangan atau deviasi terhadap tata bahasa sebagai sarana literer. Singkatnya, stilistika meneliti fungsi puitik suatu bahasa. Fungsi puitik bahasa yakni bahasa yang memiliki lapis makna,yang terdapat dalam karya sastra sehingga menghasilkan penyimpangan kaidah kebahasaan dan hal itulah yang nantinya akan membuat bahasa dalam karya sastra disebut sebagai bahasa sastra. Penelitian stilistika berpusat pada penggunaan gaya bahasa dalam karya sastra, sehingga fokus dari penelitian ini ialah pemakaian bahasa yang tidak biasa (menyimpang dari bahasa sehari-hari pada umumnya) dan dapat menjadi suatu kekhasan dalam wacana sastra.
Penyimpangan penggunaan bahasa bisa berupa penyimpangan terhadap kaidah bahasa, seperti: penggunaan gaya kata (denotasi. konotasi, repetisi, retoris, penghilangan kata, klimaks, penggunaan kaya kalimat (kalimat minor, retoris, repetisi, klimak/anti klimaks) pemakaian bahasa daerah (bahasa prokem, bahasa jawa, istilah-istilah daerah, dan pemakaian bahasa asing atau istilah-istilah asing). Penyimpangan terhadap kaidah kebahasaan tersebut diduga dilakukan untuk tujuan tertentu sehingga dianggap perlu untuk dikaji. Jadi dapat dipahami, bahwa pengkajian stilistika dibagi ke dalam dua bagian;
(1) analisis gaya bahasa dalam sistem karya itu sendiri dan peranannya dalam keutuhan sebuah cerita; misalnya banyaknya penggunaan bahasa daerah, dalam aspek apa saja penggunaan bahasa daerah itu (tema, alur, latar, penokohan, perwatakan, dll) yang mana, jika gaya bahasa itu tidak digunakan, maka akan mengurang makna isi dari karya-karya tersebut.
banyaknya penggunaan gaya kalimat minor dan bahas adaerah (jawa) dalam novel ronggeng dukuh paruk karya ahmad tohari. penggunaan bahasa jawa ini digunakan untuk menekannkan budaya daerah jawa dalam cerita tersebut. Penggunaan istilah-istilah keraton dalam novel gadis pantai karangan Pramoedya Ananta Toer menjelaskan budaya patriaki yang terjadi dalam lingkungan keraton), banyaknya penggunaan majas Ironi dalam cerpen " Pelancong Kepedihan" karangan Agus Noor dalam alur cerita. karena ingin menggambarkan perasaan miris para korban bencana Yogyakarta terhadap para relawan yang mencari pujian dibalik musibah tersebut. dll.
(2) analisis gaya bahasa dalam sebuah karya, yang nantinya akan dijadikan pembeda dengan gaya yang digunakan oleh pengarang yang lainnya. misalnya: gaya bahasa puisi rendra lebih banyak menggunakan bahasa-bahasa sehari-hari, sementara taufik ismail lebih banyak menggunakan bahasa kiasan (sindiran) pada puisi-pusi yang bertemakan sosial ( bersatulah pelacur-pelacur kota jakarta: karya WS. Rendra dengan kumpulan pusi Majoi karya Taufiq Ismail). Penggunaan bahasa surealis simbolis merupakan gaya Sutardji Colzum Bachri, Ebit G Ade lebih menonjol dengan gaya bahasa yang realis dalam sajak-sajak yang bertemakan religi. dlsb.
Penelitian stilistika ini bisa saja dilakukan dalam ranah linguistik denga telaah wacana non sastra dan bisa juga dilakukan dalam ranah sastra yaitu pada teks-teks susastra. titik perbedaannya: jika di dalam ranah linguistik pengkajian stilistika hanya sebatas pada berapa jumlah penyimpangankaidah dan dalam tataran apa saja terdapat penyimpangan tersebut (fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, wacana), sedangkan dalam ranah susastra penelitian ini tidak hanya sebatas berapa jumlah penyimpangan kaidah yang terjadi,dalam tataran apa saja, hingga apa efek yang dimunculkan penyimpangan tersebut pada isi karya sastra yang berbentuk prosa (mempengaruhi alur ceritakah, menegaskan latar ceritakah, latar sosial tokoh-tokoh dalam cerita, latar sosial pengarang cerita, menegaskan perwatakan tokoh-tokoh, atau pesan cerita; budaya, ekonomi, agama, dll)
sementara jika dalam puisi: (penyimpangan dalam aspek tipografi puisi, tema puisi, diksi dalam puisi, dll--sesuai unsur instrinsik puisi).
sementara ini penelitian stilistika susastra memang banyak dilakukan pada jenis karya puisi, karena memang kekuatan penyimpangan bahasa paling banyak ditemukan pada puisi, namun penelitian ini juga dapat dilakukan pada prosa (cerpen/novel).
Sumber acuan:
Endaswara, Suwardi. 2003. Metodelogi Penelitiaan Sastra. Yogyakarta:
Pustaka Widyatma.
Kutha Ratna, Nyoman. 2009. Stilistika. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Semi, M. Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.
Sudjiman, Panuti. 1993. Bunga Rampai Stilistika. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Stanton, Robert. 2007. Teori Fiksi. Jogjakarta: PT. Pustaka Pelajar Offset.
Supriyanto, Teguh. 2009. Stilistika dalam Prosa. Jakarta: Pusat Bahasa.

Karya Sastra dan Pers

Sebulan yang lalu dunia perpolitikan digemparkan dengan munculnya tabloid “Obor Rakyat” yang bertebaran di pesantren-pesantren wilayah Pulau Jawa. Keberadaan surat kabar ini dianggap meresahkan, karena konten isinya menyinggung suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Berita-berita yang dimuat di dalam tabloid ini dituding sebagai kampanye hitam (black campaign) terhadap pasangan calon presiden dan calon wakil presiden RI 2014 (Joko Widodo dan Jusuf Kalla). Belakangan tabloid Obor Rakyat yang dibawah pimpinan Darmawan Sepriyossa dan Setyardi Budiyono dianggap melakukan tindakan pidana dengan pasal 310, 311, 156, dan 157 UU KUHP; pasal 4 UU No. 20 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnik; serta UU Pilpres. Selain itu menurut Ketua Dewan Press-Bagir Manan menilai tabloid Obor Rakyat bukan produk jurnalistik sesuai dengan UU No. 40/1999 tentang press. Alasannya , penerbit tabliod tersebut tidak berbadan hukum dan kontennya bermasalah (mengarah kedalam fitnah dan mengandung SARA) .
Betapa berpengaruhnya peran media massa dalam kehidupan ini. Ia tidak hanya mampu sebagai alat proganda, namun juga mampu sebagai alat provokasi. Media adu domba yang belum memiliki saingan untuk menjalankan peran yang serupa. Namun jika diamati lebih dalam lagi sebenarnya ada media lain yang bisa kita gunakan untuk mewadahi sikap kritis yang muncul ini, yaitu melalui SASTRA. Mengapa demikian? Karena sastra tidak memiliki peraturan pakem, peraturan mengikat, kaidah paten, undang-undang atau kode etik seperti halnya media massa. Setiap orang bebas menyampaikan gagasannya, pikirannya, pendapatnya, sudut pandangannya, bahkan ideologinya di dalam karya-karya sastranya.
Sastra adalah dunia yang serba mungkin (Probability); apapun bisa jadi mungkin, bahkan kemustahilanpun bisa jadi mungkin. Itulah yang menjadi kekhasan sastra, adanya kebolehjadian (plausibility). Sastra dapat menampilkan dunia yang realistik dan masuk akal secara meyakinkan, karena bahasan yang terdapat dalam dunia sastra akan bermetamorfosis mengikuti imajinasi penulisnya atau pengarangnya. Ia bisa saja menjelma menjadi yang paling baik hati, bisa juga menjadi sesuatu yang sangat kejam, brutal, bahkan nyeleneh. Itulah kehebatan dan keunggulan dunia susastra yang tidak dimiliki oleh dunia kejurnalistikan dalam hal konten isi kepenulisan. Oleh karena itu, tidaklah heran jika kahirnya banyak ditemukan realitas sosial yang memang sebenarnya terjadi tidak ada pemberitannya di media massa jenis apapun, tetapi diungkapkan secara blak-blakan dalam bentuk karya sastra.
Selain itu jika ditilik dari sejarah, lahirnya kesusastraan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari keberadaan pers itu sendiri, meskipun hingga saat ini belum ada kesepakatan resmi tentang kapan dimulai lahirnya sastra Indonesia itu sendiri. jauh sebelum berdirinya Komisi Bacaan Rakyat (Commisie voor de Inlandsche School en Volkslectuur) yang berdiri tahun 1908 dan tahun 1917 berganti menjadi kantor Bacaan Rakyat (Kantoor voor de Volkslectuur) yang kemudian dikenal dengan sebutan Balai Pustaka, telah banyak hasil karya sastra yang bertebaran di media massa, seperti cerpen, cerbung, dan puisi. Hal inilah yang menjadikan bahwa hubungan dunia pers dengan dunia sastra itu begitu intim. Bahkan tidak hanya sampai di sana, hadirnya karya sastra pada media massa pada waktu itulah yang mendorong berdirinya balai pustaka itu sendiri, karena karya-karya sastra terbitan swasta ini dianggap berbahaya dan dapat membawa pengaruh buruk bagi pemerintah Belanda. Atas dasar itulah pemerintah Belnda merasa perlu mendirikan Balai Pustaka, sehingga munculah karya sastra angkatan pujangga baru. Fakta sosial ini kian menegaskan bahwa kebermunculan kesusastraan Indonesia bergendengan dengan kemunculan penerbitan pers.
Beberapa majalah dan surat kabar yang terbit pada tahun 1868 s.d 1900-an diantaranya; Bianglala, Sahabat Baik (Betawi), Bintang Hindia (Bandung), Taman Sari, Pewarta Prijaji (Semarang), Sinpo, dll. Dalam hampir setiap penerbitan media itu, selalu muncul cerita ringan yang ringkas dan pendek dengan tema sekitar kehidupan sehari-hari. Kekhasan karya sastra yang lahir pada masa-masa ini adalah penulisan nama samaran yang digunakan oleh penulis atau pengarang dari karya sastra yang diterbitkan.
Perkembangan kesusatraan indonesia pada dasawarsa 1980-an semakin menggeliat keintimannya dengan keberadaan media massa. Hal ini terlihat tegas, banyaknya karya sastra yang tidak lagi bergantung pada majalah Horison, sebagaimana sebelum masuk pada tahun ini, Horison menjadi tumpuan utama bagi para sastrawan untuk menerbitkan karya-karyanya. Memasuki tahun 1980-an banyak media massa bahkan memberikan rubik khusus untuk tulisan-tulisan sastra, terlebih pada edisi surat kabar minggu yang akhirnya banyak yang memploklamirkan: “Minggu: Harinya Sastra” Beberapa media masaa tersebut diantaranya; surat kabar Kompas, Media Indonesia, Suara Karya Minggu dan Pelita, Suara Pembaruan, Republika, Sinar Harapan, Koran Tempo, Bisnis Indonesia, dll. Daftar ini belum termasuk majalah mingguan atau bulanan seperi Amanah, Panji Masyarakat, Kartini, Femina, Annida, Wanita Indonesia, dll. Daftar inipun belum termasuk peran serta surat kabar lokal yang juga menyisakan kolom khusus bagi tulisan susatra. Hal inilah sesuangguhnya merupakan peluang besar bagi masyarakat luas dengan beragam kepentingannya untuk menggunakan media ini dalam menuangkan gagasan-gagasannya. Namun sejauh ini, baru sedikit yang menyadari peluang ini.
Ketidaksadaran ini mungkin saja menjiwai pola pikir kita sebagai bagian dari masyarakat yang menganggap bahwa “menjadi penulis belum mampu menghidupi”. Paradigma ini memang tidak bisa dinafikkan, realitas sosialpun telah membuktikan hal tersebut, bahkan Putu Wijaya dalam sebuah seminar bahasa dan sastra Indonesiapun pernah melotarkan pernyataan yang senada. Paradigma kedua pemakanaan kita terhadap fungsi dari sastra itu sendiri. karya sastra hanya menjalankan fungsinya sebagai media hiburan (Penghibur saja). Padahal Sastra juga mengemban tugas sebagai sarana sosial kontrol yang dapat digunakan masyarakat dalam kehidupannya. Terlepas dari alasan tersebut, tidak ada salahnya bagi kita untuk mencoba hal ini. Setidaknya diawali dari rutinitas menulis fiksi yang dirasa lebih mudah ketimbang menulis non fiksi, mampu menstimulus diri untuk gemar menulis. Mengungkapkan ide-ide, gagasan-gagasan, pendapatnya, agar apa yang menjadi pikiran, ide, dan gagasan-gasan itu tidak menguap begitu saja bersama tiupan udara.
Sumber Acuan:
1. Mahayana, Maman S. 2006. Bermain dengan Cerpen. Jakarta: PT Gramedia
2. Nasution, Yahya Farid. SBY Diminta Bersikap. Media Indonesia: Selasa, 17 Juni 2014/No. 12105/ Tahun XLV/ 28 halaman. Hlm. 1

Alasan

Alasan
“semakin sering ujian datang menghampiri hidup kita, maka kita harus punya banyak alasan untuk bangkit dan punya nafas yang panjang untuk meneruskan hidup”
Teman! Sejatinya Ujian kehidupan itu adalah sebuah keniscayaan yang harus kita jalani dalam kehidupan ini. Jika dianalogikan, Kehidupan ini adalah proses belajar sepanjang masa. Di dunia kita diminta untuk mampu menerjemaahkan segala kausalita yang ada. Nah! Ujian adalah cara yang dapat membantu kita untuk memahami berbagai cerita kehidupan yang kita lalui. Ujian menjelma sebagai anak tangga yang akan kita lalui satu per satu, agar kitapun tiba di jenjang paling atas. Dari atas sanalah kita akan melihat segalanya, menyaksikan segala jawaban pertanyaan yang selama ini melarung di dalam benak kita. Mengapa sih, hidup gue begini?mengapa harus begitu? Untuk apa ini? untuk apa begitu? Dst. Kita harus menyelesaikan pijakan kaki kita pada jenjang anak tangga tertinggi, agar pemahaman kita akan hidup ini semakin sempurna dan menyeluruh. Untuk menyelesaikan pijakan kita pada setiap anak tangga, tentunya membutuhkan waktu (short time/long time). Kita tidak akan bisa menginjakkan kaki kita pada jenjang berikutnya, sebelum sempurna pijakan ini pada anak tangga sebelumnya. Jadi, kita harus memastikan pijkan kita sudah pas menghujam pada setiap anak tangga atau belum? Sebab, kalau pijakan pada satu anak tangga belum sempurna, lalu kita memaksakan menginjakkan kaki kita pada jenjang berikutnya, maka yang akan terjadi kita akan tergelincir dan jatuh ke bawah. Seperti itulah kira-kira analogi sederhana dari ujian kehidupan itu.
Siapa sih, yang tidak pernah mengalami ujian kehidupan? Saya rasa tidak ada. Semua manusia yang hidup pasti pernah ditimpa ujian dengan beragam kadarnya. Berat, sedang, ataupun ringan. Kitapun pasti punya cara yang beragam dalam menyelesaikan setiap ujian yang dilalui. Layiknya kita menyelesaikan soal matematika, kita diminta untuk menyederhanakan sebuah bilangan berpangkat misalnya. Maka setiap orang punya cara yang berbeda dalam menyelesaikannya. Ada yang mengurutkannya satu per satu bilangan secara manual, menggunakan alat bantu hitung, atau cukup dengan memejamkan mata dan membayangkan bahwa di dalam imajinya ada sebuah kue, lalu ia mencoba membagi kue itu hingga terpotong kecil-kecil sama besarnya antar setiap bagian. Setiap kita pasti punya cara!
Tinggal bagaimana kita dituntut untuk terus berkreasi mencari atau menciptakan cara yang akan kita gunakan dalam menyelesaikan ujian kehidupan itu.
Rumus pertama yang saya gunakan: Ketika kau sulit, lihatlah ke bawah. Sesungguhnya masih banyak orang yang lebih sulit darimu. Akhirnya yang tadinya ingin menghujat Allah, berbalik menjadi sebuah rasa syukur atas nikmat dan karuniaNya.
Sebuah pengalaman:
Waktu itu seminggu jelang ujian EBTANAS SD. Tiba-tiba saja pada shubuh hari, Ayah yang hendak mengambil air wudhu jatuh di kamar mandi. Kami yang masih terlelap tiba-tiba terjaga dan bersegera menghampiri ayah. Membopong beliau menuju kamar. Kami sekelurga panik dan segera ke rumah mantri (tabib), memintanya untuk memeriksa ayah. Pemeriksaan itu berlangsung lama. Ku lihat mantri bolak-balik menuju rumahnya dengan membawa alat dan obat yang diperlukan. Sebelum berangkat ke sekolah, ku lihat ayah di kamar. Tidak bisa lagi berbicara seperti biasa. Mulutnya miring, dan kata-kata yang keluar terdengar hanya bunyi getar-getar parau saja. aku terisak melihat kejadian itu, ingin aku menghambur ke arahnya, memeluknya, dan membantu beliau bicara. Tapi tangan ibu mencegahku. Ia menyuruhku tetap datang ke sekolah, mengingat sebentar lagi aku akan menghadapi EBTANAS. Akupun berangkat ke sekolah dengan mata sembab dan pikiran yang tidak karuan. Ayahku kenapa?
Sepulang sekolah, ku lihat rumah sekaligus toko kami tertutup. Tidak ku jumpai siapa-siapa di dalam rumah. Tetanggaku menyampaikan pesan, bahwa ayahku dilarikan ke puskesmas. Ibu, kakak, dan adikku ikut serta membawa ayah ke puskesmas. Aku dipesankan ibu untuk tetap di rumah. menyelesaikan pekerjaan rumah dan dilanjutkan belajar untuk menghadapi ebtanas yang tinggal beberapa hari lagi. Ku selesaikan semua tugas rumah yang sebenarnya aku tidak bisa mengerjakannya. Memasak, mencuci pakaian, mencuci piring, membersihkan rumah. semuanya ku lakukan. Aku harus berbagi peran dengan ibu. Aku tidak bisa terus-menerus meminta bantuan ke ibu. Karena ibupun harus menunggui ayah, merawat ayah, dan mengurus adik-adikku. Disaat semua teman-temanku sibuk menggelar kelompok belajar di rumah-rumah teman atau guru, aku sibuk menyelesaikan pekerjaan rumah, mengurusi adik-adik, dan menyempatkan diri sekadar membaca kembali buku-buku di waktu yang serba terbatas.
Kali itulah aku langsung bertanya kepada Allah: “Allah mengapa kau beri keluargaku ujian yang begitu berat?”
Tiga hari toko tutup, sebab ibu harus bolak-balik ke puskesmas untuk memastikan kondisi ayah yang di rawat inap di sana. Di desa ini tidak ada rumah sakit. Butuh waktu 4 jam menuju rumah sakit yang ada di Kabupaten Muara Enim dari kampung ini. alhasil seminggu pula tidak ada pemasukan keuangan. Untuk menutupi kebutuhan, kami mengandalkan tabungan ibu. Rasanya aku ingin menangis. Dua abangku tengah duduk dibangku SMP dan SMA, sebentar lagi aku akan melanjutkan sekolah ke jenjang SMP, adik terkecil sebentar lagi akan masuk SD. Aku hanya terisak saja membayangkan bagaimana nanti?
“Nak! Kita hanya butuh kembali mendekat dan merapat kepada yang Maha. Ia tengah ingin menguji cinta kita padaNya. Menguji keikhlasan sholat kita, menguji kesungguhan penghmabaan kita padaNya. Jika benar, kita mencintaiNya, maka sekarang tibalah waktunya untuk kita percaya padaNya. Percaya pada kasih-sayang yang Ia punya. Percayalah Nak! Tidak ada kesia-siaan yang ia ciptakan. Semua pasti punya alasan. Hanya saja sekarang kita belum menemukan jawabanya. Teruslah berdo’a dan meminta padaNya. Mintalah padaNya pundak yang lebih kuat dari sebelumnya, serta lutut yang kokoh untuk menopang beratnya ujian ini.” itulah nasihat ibu, sesaat setelah kami berdua melaksanakan sholat Tahajud bersama.
Ebtanaspun berakhir. Hasilnyapun keluar. Alhamdulillah aku lulus, meskipun aku gagal memepertahankan peringkat di kelas. Ibu yang biasanya keras pada hal-hal yang berkaitan dengan akademik, kali ini hanya senyum dan memelukku. Tidak ada kata sama sekali yang ia ucapkan. Aku mengerti, ibu mungkin tengah menata rasa kecewanya, berusaha keras untuk mengerti kondisi ini. akupun juga belajar memahami, tidak akan ada reward apapun pada kelulusan ini.
Selepas menyelesaikan pendidikan SD di palembang, ibu memintaku untuk melanjutkan pendidikan di Padang. Cuaca desa di Palembang ini terlalu dingin, tidak cocok untuk kesehatan ayah. Akhirnya ibu memutuskan untuk membawa ayah ke Padang, dan menyuruhku untuk merawat ayah di sana. Sedangkan ibu dan kakak-kakakku bahu membahu berdagang, untuk mendapatkan biaya pengobatan ayah. Alhasil kakak keduaku memilih berhenti bersekolah, menggantikan tugasku, membantu ibu dan kakak sulungku berdagang. Aku dan kakak ketigaku melanjutkan pendidikan di Padang.
Desa tempat tinggalku di Padang, berada di dataran tinggi. Alhasil sulit bagi kami mendapatkan air bersih dari PAM. Keadaan inilah yang membuatku harus bolak balik ke kulah (kamar mandi umum) yang terletak disamping masjid untuk mendapatkan berember-ember air. (jaraknya dari kampus A-Kampus B) dan itu harus ku tempuh dengan berjalan kaki. Awalnya aku kesal dengan kondisi ini. Mengapa Allah itu belum juga berhenti menguji kehidupan keluargaku? Seminggu di padang, aku hanya kuat mengangkut 2 jirejen air dengan masing-masing berisi 4 Lt air. Sementara kami membutuhkan banyak air. Selain untuk masak, juga untuk ayah mandi. Dari pukul 05.00-06.00 wib, aku hanya bisa mengangkut air sebanyak 40 Lt. Belum bisa memenuhi setengah drum air yang di rumah, tugas mengangkut air ini ku lanjutkan pulang sekolah. Sejak pukul 13.00-14.30 wib. Itupun hanya berhasil memenuhi setengah drum air. Melihat kondisi itu, ayah sering sekali menangis dan menyalahkan dirinya. Aku berusaha harus terus tertawa dihadapan ayah. Aku tak ingin membebankan pikiran ayah. Sebab semakin banyak hal yang dipikirkan ayah, itu akan memperburuk kondisi kesehatan beliau. Semenjak itulah setiap hari, aku belajar berdusta.
Sebulan, dua bulan, akupun akhirnya terbiasa. Kini aku sudah bisa bersahabat dengan keadaan. Bersahabat dengan apapun kesulitan yang kujalani setiap harinya. Hal yang paling ku syukuri adalah, aku memiliki teman yang senantiasa menyemangatiku. Dia juga yang mengajariku mengangkut air dengan ember berkapasitas 22 Lt air. Dia yang mengajariku membawa air 22 Lt dengan diletakkan di atas kepala. Dia yang mengajariku menggulung kain untuk alas kepalaku, agar tidak terlalu sakit, ketika membawa 22 Lt air. Awalnya air yang ku bawa 22 Lt, sampai di rumah tinggal setengahnya, sebab banyak tumpahnya selama perjalanan dari kulah menuju rumah. Temanku hanya tersenyum dan bilang:
“ mudah-mudahan Lim, setelah ini, kau akan mengerti. Bahwa kehidupan itu keras. Kerasnya kehidupan ini tidak cocok dilawan dengan hati yang manja. Tapi percayalah! Kesulitan hari ini, akan kita kecap manisnya nanti, nanti! Mungkin saat kita sudah lupa, bagaimana beratnya air 22 Lt yng harus kita junjung di kapala kita hari ini”. ku lihat lingkar senyum tulus terukir di wajahnya.
Benar sekali! Apa yang ditulis oleh Nadia Key dalam tulisan Bilayer. Saat kita di uji nanti, sudah tidak ada lagi lagunya : Aku terjatuh, dan tak bisa bangkit lagi”, melainkan nanti kita akan semakin bangkit, sebab kita tidak sendiri. Allah tidak akan membiarkan kita sendiri meniti hari selama ujiannya itu menghampiri kehidupan kita ini. dia pasti akan mengirim orang-orang yang akan menemani kita dan membantu kita untuk mengurai segala hikmah yang tersirat dalam setiap peristiwa yang terjadi.
Sejak saat itulah, aku selalu bersemangat menjalani kehidupan ini. temanku itu tidak hanya mengajariku membawa air, dia juga yang mengajakku keluar masuk bebukitan. Mengajariku memilah reranting kayu yang bisa dijadikan kayu bakar. Dia mengajariku bagaimana menggunakan golok untuk memotong kayu, mengajariku bagaimana cara menyusun kayu bakar agar banyak yang terikat, lalu mengajariku bagaimana cara menyusun tenaga untuk mengingkatkan akar rotan pengganti tali untuk susunan kayu bakar itu. Sejak itu pulalah, aku senang mencari kayu bakar dan memasakkan sepanci air hangat untuk ayahku mandi.
Selama di Padang, aku dan tante mengurusi ayah. Akulah yang mencucikan baju ayah, menyeterika baju ayah, memotongkan kukunya, membantunya memegangi kaca, ketika beliau hendak mencukur kumis atau merapihkan jenggotnya. Aku juga yang membantu ayah mesangkan tali sepatu ketika beliau hendak pergi marathon pada pagi hari. Mengantarkan payung ke masjid untuknya, jika beliau masih khusyuk berdizikir di masjid. Menyiapkan tongkat untuknya. atau sekadar membuatkan secangkir teh dan menemaninya duduk di teras rumah pada sore hari. Menyaksikan bersama saat jingga menyepuh cakrawala. Pelajaran yang aku selesaikan pada jenjang ini, aku bisa menyeterika pakaian. Sederhana memang, tapi proses yang dijalani itu tidaklah mudah. Biasanya dulu, aku terbiasa menerima pakaian yang sudah bersih dan rapih distrika oleh ibu. Namun kini, tugas-tugas itu harus kuselesaikan sendiri. sama halnya, aku bisa menyilapkan api dengan baik pada tumpukan kayu bakar dan mesakkan ayah sepanci air hangat. Biasanya dulu aku terbiasa, mengambil air hangat dari termos. Pekerjaan yang biasanya dikerjakan ibu, sekarang aku yang mengerjakan.
Sering aku mendengarkan ayah terisak pada sepertiga malamnya, mengadukan apa yang ia rasa, menyematkan namaku pada bait-bait doanya. Lagi-lagi aku hanya mampu berdusta, berpura-pura lelap dan menarik selimut menutupi sepenuh wajahku.
Aku juga belajar bagaimana berakting, tanpa perlu susah-susah dan mengeluarkan biaya
***
Tahun kedua aku di Padang, kondisi ayah jauh lebih membaik. Akhirnya ayahpun memutuskan kembali ke Palembang, sedangkan aku dan kakakku tetap di Padang menyelesaikan sekolah kami. Lulus MTs di Padang, ibu dan kakak-kakakku memaksa aku melanjutkan pendidikan di Jakarta. Ini pemaksaaan paling kejam yang aku terima. Sebab aku sudah punya rencana melanjutkan pendidikan ke MAN Koto Baru Bukit Tinggi program khusus, dari sana aku akan melanjutkan kuliah di Mesir. Namun, mungkin karena aku belum mampu menyampaikan informasi ini dengan baik kepada keluarga, ibu dan kakakku bersikeras menyuruhku melanjutkan pendidikan ke Jakarta, akhirnya akupun pindah ke Jakarta.
Sebelum berangkat dari Padang ke Jakarta, aku sempatkan mampir ke Palembang untuk sekadar pamit kepada orang tua. 3 jam aku di Palembang, memanfaatkan waktu bersama ayah. Ayah bilang:
“Nak! Amanah apapun yang kamu jalani, kerjakanlah amanah itu dengan sunggh-sungguh. Baik-baik di sana, pandai-pandai jaga diri. Hati-hati dalam bergaul, dan usahakan jangan pernah merepotkan orang lain. Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Jangan nakal, inget! Ayahmu itu bukan siapa-siapa, sudah sakit-sakit begini, mungkin juga usia ayah tidak akan lama. Kamulah harapan ayah yang bisa membimbing adik-adik kamu dan menjaga ibumu. Ayah percaya samu kamu” itulah nasihat ayahku, sebelum akhirnya beliau pamit padaku untuk ke masjid melaksanakan sholat ashar.
Aku hanya terisak saja mendengar nasihat beliau, membenamkan wajahku dalam dekapnya yang hangat. Membasahi lengan baju koko coklat susunya. Ayah menatap wajahku dalam senyumnya. Aku tahu, ayah tengah berdusta sore itu.
***
Aku melanjutkan sekolahku di Jakarta. Menjalankan amanah orang tua ini dengan sebaik-baiknya. Ketika classmeeting semster 2, tiba-tiba telepon rumah berdering, sepupuku di Palembang mengabarkan bahwa ayahku masuk rumah sakit. Sontak kabar ini membuat aku terpuruk. Perih, sedih, sakit. Akhirnya sehari jelang dauroh penguatan SMA, aku bertolak ke Palembang. Dengan menaiki bis kursi tempel, kutabahkan hati untuk pulang. Janjiku membawakan rapor dengan bertuliskan peringkat 1 kehadapan ayah tertunda, karena rapor baru dibagikan pada hari Sabtu. Setiba di rumah, tak ku temukan ayah, tidak kutemukan wajahnya, peluknya, jemarinya, tidak ada. Di rumahku dipenuhi para tetangga yang lalu lalang, dengan senyum dan sapa dalam lingkar wajah penuh sembab. Sibuk aku bertanya, ibukupun sembari mendekapku, mengatakan bahwa ayah sudah tidak ada, dan sudah dikuburkan tiga hari yang lalu.
Tidak ada diksi yang bisa mewakili hatiku ketika itu. Aku hanya menangis dan membenamkan wajahku dalam dekap itu. Beragam kata keluar dari mulutku, namun yang terdengar hanya raung-raung samar saja.
“Allah, mengapa kau tak kunjung pasai memberikan ujian pada aku dan keluarga? Apa salahku? Apakah begitu besarnya dosaku padaMu, hingga sampai hati kau pilihkan cerita yang begitu memilukan ini? Padahal baru saja aku merasakan ikhlas, ketika kau lumpuhkan syraf organ tubuh ayaku, aku juga menerima ketika aku harus menjalani kehidupan yang tak biasa, bolak-balik mengangkut air, berikat-ikat kayu aku ambil untuk ayahku, lalu aku juga ikhlas menuruti kata ibu untuk melanjutkan sekolah Jakarta. Lalu mengapa kini Kau ambil lagi penyemangat hidupku? Apa Kau tidak iba pada ibuku? kau tidak kasihan pada adik-adikku? Ibuku terlalu muda untuk menjadi seorang janda, adik-adikku masih terlalu kecil untuk menjadi seorang yatim! Itulah kali pertama, aku benar-benar merasa terpuruk sampai tak karuan kalimat tanya yang meluncur dari lisanku padaNya.
Astagfirullah!
Dua pekan ku lewati liburan penuh duka di Palembang. Berpura-pura tegar dihadapan ibu, kakak, dan adik-adik. Mencoba menata hati dan mengikhlaskan segala peristiwa yang dialami. Menata hati kembali, untuk bangkit. Ayah boleh saja tidak ada, tapi amanat ayah tetap harus dilaksanakan. Aku harus kembali bangkit, melanjutkan pendidikan, agar menjadi teladan untuk adik-adik nanti. Setiba di Jakarta, aku hanya tersenyum, melihat angka satu berdiri tegap di raporku. Aku memenuhi janjiku pada ayah.
“Ayah, ibu selalu bilang. Kita memang terpisah oleh ruang, tapi bukan berarti kau jauh dari kami. Ayah, lihatlah! Lihat angka 1 ini. ini hadiah untuk ayah. Semoga ayah senang ya”. desisku dalam hati.
Ditinggal ayah, otomatis tugasku dan kakak-kakakku bertambah. Sebentar lagi aku akan kuliah, adik-adikku sebentar lagi akan masuk SMP dan SMA. Artinya aku harus membantu mereka dari segi manapun yang aku bisa. Alhamdulillah tiba-tiba saja dua BANK memberiku beasiswa. Ini juga tidak terlepas dari doa dari teman-teman seperjuangan di rohis.
Kata Murobbi benar: “Anak yatim itu, Allah langsunglah yang akan mencukupi rezekinya”.
Ketika aku duduk dibangku kelas 3, tiba-tiba ibu sering sakit-sakitan. Setelah diperiksa dokter, akhirnya keluar vonis: ibu mengidap kanker paru-paru. Betapa sedihnya hati ini, menerima takdir ini. ibu yang biasanya ku lihat kuat, mengerjakan segala sesuatunya sendiri, kini harus lebih banyak beristirahat. tidak bisa beraktivitas sepadat seperti yang biasa. Sejak saat itulah aku jadi gelisah, aku takut, kalau tidak lama lagi Allahpun akan mengambil kembali ibuku.
“ Allah! Kau boleh mengambil apa saja yang aku miliki, tapi jangan kau ambil ibuku dulu.”.
Sejak saat itu, setiap 6 bulan sekali, ibu harus menjalani chekup dari palembang ke Jakarta dan menjalani rawat jalan. Betapa sesaknya nafas ini melihat setiap waktu, ibu harus menengak beragam pil dan obat, hanya agar bisa bernafas pada esok hari. Sempat aku berkata pada ibu:
“Andai saja penyakit ini sebentuk penawaran takdir dari Allah, maka aku akan minta sama Allah. Sudah! Aku saja yang sakit, jangan ibu. Kalau Ibu sakit, kasihan adik-adik, nanti mereka bagaimana? Kakak-kakak yang ketiganya laki-laki harus bagaimana? Siapa yang akan merawat mereka? Jadi, biarlah aku saja seharusnya.” Ibu hanya berkaca mendengar ocehanaku.
Hal yang paling menyakitkan hati ini adalah, ketika saban sehari saat ibu di Jakarta, menyaksikan beliau setiap malam berjuang untuk mendapatkan udara. Melihat beliau berkeringat ketika sesak nafasnya kambuh. Dadanya naik turun untuk mencari udara. Kepalanya tengadah agar kekuatan hirup saluran pernafasannya lebih besar! Betapa menyakitkannya teman menyaksikan itu semua! Kadang aku sudah tidak sanggup lagi berdusta, marah-marah ke siapa dan apa saja yang saya jumpai.
“Allah mengapa? Mengapa ujian ini begitu berat? Mengapa harus seperti ini? mengapa tidak aku saja yang sakit? Mengapa harus ibu? Apakah Kau tidak kasihan kepada adik-adikku yang yatim itu?”
Begitulah teman! Kita acapkali nyinyir mempertanyakan banyak hal padaNya, yang terkadang saat itu, belumlah waktunya bagi kita untuk mengetahui segalanya. Sama halnya ketika kita menaiki anak tangga, kita ingin sekali lekas-lekas tiba di jenjang paling atas tanpa memedulikan keamanan bagi kita, menjadikan kita kurang hati-hati, dan akhirnya terjatuh. Otomatis ketika kita terjatuh, kita harus memulai lagi dari awal, dari anak tangga terbawah lagi.
Kali itu, aku benar-benar belum mendapatkan jawaban dari runtunan ujian itu.
***
14 April 2011
Aku baru saja pulang dari salah satu sekolah, untuk mengatur jadwal observasi mata kuliah telaah kurikulum. Tetiba Hpku berdering. Sepupuku mengabarkan bahwa sakitnya ibu kumat, dan hari itu juga aku harus pulang ke Palembang. Sesaat setelah menerima telepon itu, aku panik. Segera ke masukkan beberapa helai baju ke dalam tas gemblokku. Aku, kakak, dan omku bertolak ke Palembang. Baru saja tiba di gapura desa, aku tidak langsung menuju rumah, melainkan langsung diajak ke tanah pemakaman. Ku lihat di sana, tubuh ibu berbalut kain kafan, terbujur di dalam sebuah keranda. Bukan main marahnya aku pada diriku sendiri.
Dulu aku tak sempat berpamitan pada ayah!
Tak sempat menyalami punggung tangannya untuk yang terakhir!
Tak sempat menyolatkannya!
Bahkan aku tak sempat sekadar menatap wajahnya!
Ayahku sudah terbaring di liang lahat selama 3 hari, baru aku tiba di tanah pusara ini!
Sekarang!
Akupun tidak bisa menemani ibuku jelang kepergiannya keharibanMu!
Belum sempat ku hadiahi ia sebuah toga!
Belum sempat ku tunaikan baktiku padaNya!
Belum selesai ku laksanakan amanat ayah untuknya!
Akupun tak sempat menyolatkannya!
Allah bicaralah padaku!
Dimana letak kesalahanku!
Sebesar apakah, pengkhianatanku padaMu!
Hingga sepahit ini, kehidupan yang harus ku jalani!
Allah! Bicaralah padaku!
Beritahu aku!
Aku terduduk di atas tanah merah itu, menyaksikan perlahan-lahan. Tubuh ibu dimasukkan ke liang lahat. Hatiku basah oleh nestapa. Wajahku bersimbah air mata. Aku habis kata-kata. Semakin perih hati, ketika ku saksikan kedua adikku duduk dipinggir pusara, sembari memangku kedua lututnya, teriak menangis, menanggil-manggil ibu. Padahal senin besok, sibungsu akan menghadapi UAN SMP, malang betul kondisinya. Aku kembali mengatur nafasku, mengeringkan airmata, memberesi remah-remah isak, lalu dengan menegar hati ke rangkul kedua adikku, mengajak mereka menadahkan tangannya ke langit. Meminta belas kasih dari Allah, agar Allah berkenan mengampuni dosa-dosa ibu, dan menerima segala amal ibadah beliau. Sesuangguhnya kami bersaksi, ibu telah menyelesaikan amanahNya dengan sangat baik, memngandung kami, melahirkan kami, menyapih kami, membesarkan kami, medidik kami, mencukup segala kebutuhan kami, bahkan ketika ayah meninggalkan kami, ibu pulalah yang menjalankan peran ayah, menafkahi kami.
Akupun mengerti mengapa Allah mengambil ibuku, sebab Allah rupanya lebih besar sayangnya pada ibu dari pada sayangku pada ibuku. Allah lebih mencintai ibuku, ketimbang cintaku pada ibu. Inilah jalan terbaik untuk mengakhiri penderitaan ibu. Selamat istirahat ibu, mulai sekarang ibu tak usah lagi bersusah payah menghirup udara, ibu tak usah lagi merasakan sakit. Allah sudah menyuruh ibu, untuk beristirahat dengan tenang.
Pelajaran berharga yang bisa ku ambil: Berbaik sangkalah kepada Allah dan milikilah nafas yang panjang, agar Allahpun berlaku sesuai dengan prasangkamu padaNya dan memberikan kekuatan untuk kita agar bisa kembali bangkit!
Teman! Ini hanya sekelumit ujian hidup yang Allah berikan pada seorang manusia seperti saya. Mari kita lihat ke bawah, banyak saudara-saudara kita yang mengalami ujian yang serupa, atau mungkin jauh lebih berat dari ini. Sesungguhnya Allah itu sayang sekali kepada kita. Betapa tidak! Lihatlah banyak anak-anak yatim-piatu, yang tidak memiliki rumah, sehingga mengharuskan mereka harus tinggal di panti asuhan. Banyak anak-anak yatim-piatu yang lain kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka, tapi Allah justru mencukupi kebutuhan itu untuk saya dan keluarga. Banyak anak-yatim piatu yang lain, terpaksa berhenti sekolah untuk bekerja agar bisa menyambung hidup dari ke hari, sedangkan Allah mencukupi rezeki saya dan keluarga, saya bisa berkualiah, adik-adik saya bisa berkualiah, Allah cukupkan kebutuhan ini.
Coba! Kita pikirkan kembali. Kurang sayang apa lagi Allah dengan kita? Terlebih yang masih Allah cukupkan nikmatnya, dengan keberadaan orang tua yang lengkap, rezeki yang cukup.
Teman! Ujian itu akan terus mendera kita, selama kita hidup. Ujian itu akan berhenti menyambangi kita, ketika kita sudah tiba pada tujuan akhir kita (kematian). Maka, jangalah kita meminta Allah menghentikan ujian itu, tapi mintalah kecadasan hati untuk menerimanya, kekokohan pundak untuk mengembanya, dan kokohan lutut untuk menopangnya. Kehidupan itu terus berjalan, jangan sampai ujian yang sekelumit itu, menjadikan kita rugi dalam banyak hal. Membuat kita lemah, dan akhirnya membuat kita terpuruk dan jauh tertinggal. Kejarlah apa yang menjadi cita-cita kita. Lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Manfaatkan setiap momnetum yang Allah berikan. Berbuat baiklah kepada orang tua kita, selagi mereka masih ada, buatlah mereka bangga, buatlah kakak kita bangga memiliki adik seperti kita, buatlah adik kita bangga, punya kakak seperti kita. Buatlah jundiyah kita bangga punya qiyadah seperti kita, buatlah qiyadah kita bangga punya jundi seperti kita, buatlah jamaah bangga, punya kader yang luar biasa militan seperti kita, dan terutama buatlah Allah bangga, mempunya hamba yang tangguh seperti kita.
Jatuh, terpuruk, sedih, terpukul, sakit, itu adalah gejala manusiawi yang pasti dihadapi oleh setiap manusia, tapi bagaimana cara kita bangkit, itulah yang membedakan kita dengan manusia yang lainnya. Setiap kita, punya kesempatan untuk bangkit. Hanya pilihannya kita mau atau tidak?! Jangan pernah merasa menjadi makhluk paling menderita sedunia, banyak sekali saudara/i kita yang hidupnya lebih menderita dari kita, lebih berat ujiannya ketimbang kita pada hari ini? tapi mengapa mereka bisa bangkit, kita tidak?! Bukankah kita sama-sama manusia? Bukankah tuhan kita sama, yaitu Allah?!
Mari kita tata kembali impian –impian kita yang tertunda, sesungguhnya banyak yang tengah menanti keberhasilan kita. Bukan hanya kita! Ada orang tua kita! Ada keluarga kita! Masyarakat sekitar kita! Bahkan negara ini! bumi Allah ini!
Jangan buat mereka yang tengah menati keberhasilan kita itu, kecewa hatinya, kecewa hanya karena hati kita yang terlalu manja. Jangan sampai......
Carilah alasan untuk bangkit!!!
Alasanku adalah aku ingin jadi kakak yang kuat, agar adik-adikku kuat! Aku ingin jadi adik yang kuat1 agar kakak-kakakku juga lebih kuat! Dan aku ingin ak-anakku kelak jadi muslim/ah yang kuat! Yang militan! Untuk mendapatkan itu semua, kita pribadi harus kuat dulu!
Dan apa alasan kamu untuk bangkit...........................................................................(isi sendiri)