Alasan
“semakin sering ujian datang menghampiri hidup kita, maka
kita harus punya banyak alasan untuk bangkit dan punya nafas yang
panjang untuk meneruskan hidup”
Teman! Sejatinya Ujian kehidupan
itu adalah sebuah keniscayaan yang harus kita jalani dalam kehidupan
ini. Jika dianalogikan, Kehidupan ini adalah proses belajar sepanjang
masa. Di dunia kita diminta untuk mampu menerjemaahkan segala kausalita
yang ada. Nah! Ujian adalah cara yang dapat membantu kita untuk memahami
berbagai cerita kehidupan yang kita lalui. Ujian menjelma sebagai anak
tangga yang akan kita lalui satu per satu, agar kitapun tiba di jenjang
paling atas. Dari atas sanalah kita akan melihat segalanya, menyaksikan
segala jawaban pertanyaan yang selama ini melarung di dalam benak kita.
Mengapa sih, hidup gue begini?mengapa harus begitu? Untuk apa ini?
untuk apa begitu? Dst. Kita harus menyelesaikan pijakan kaki kita pada
jenjang anak tangga tertinggi, agar pemahaman kita akan hidup ini
semakin sempurna dan menyeluruh. Untuk menyelesaikan pijakan kita pada
setiap anak tangga, tentunya membutuhkan waktu (short time/long time).
Kita tidak akan bisa menginjakkan kaki kita pada jenjang berikutnya,
sebelum sempurna pijakan ini pada anak tangga sebelumnya. Jadi, kita
harus memastikan pijkan kita sudah pas menghujam pada setiap anak tangga
atau belum? Sebab, kalau pijakan pada satu anak tangga belum sempurna,
lalu kita memaksakan menginjakkan kaki kita pada jenjang berikutnya,
maka yang akan terjadi kita akan tergelincir dan jatuh ke bawah. Seperti
itulah kira-kira analogi sederhana dari ujian kehidupan itu.
Siapa
sih, yang tidak pernah mengalami ujian kehidupan? Saya rasa tidak ada.
Semua manusia yang hidup pasti pernah ditimpa ujian dengan beragam
kadarnya. Berat, sedang, ataupun ringan. Kitapun pasti punya cara yang
beragam dalam menyelesaikan setiap ujian yang dilalui. Layiknya kita
menyelesaikan soal matematika, kita diminta untuk menyederhanakan sebuah
bilangan berpangkat misalnya. Maka setiap orang punya cara yang berbeda
dalam menyelesaikannya. Ada yang mengurutkannya satu per satu bilangan
secara manual, menggunakan alat bantu hitung, atau cukup dengan
memejamkan mata dan membayangkan bahwa di dalam imajinya ada sebuah kue,
lalu ia mencoba membagi kue itu hingga terpotong kecil-kecil sama
besarnya antar setiap bagian. Setiap kita pasti punya cara!
Tinggal
bagaimana kita dituntut untuk terus berkreasi mencari atau menciptakan
cara yang akan kita gunakan dalam menyelesaikan ujian kehidupan itu.
Rumus pertama yang saya gunakan: Ketika kau sulit, lihatlah ke bawah.
Sesungguhnya masih banyak orang yang lebih sulit darimu. Akhirnya yang
tadinya ingin menghujat Allah, berbalik menjadi sebuah rasa syukur atas
nikmat dan karuniaNya.
Sebuah pengalaman:
Waktu itu seminggu
jelang ujian EBTANAS SD. Tiba-tiba saja pada shubuh hari, Ayah yang
hendak mengambil air wudhu jatuh di kamar mandi. Kami yang masih
terlelap tiba-tiba terjaga dan bersegera menghampiri ayah. Membopong
beliau menuju kamar. Kami sekelurga panik dan segera ke rumah mantri
(tabib), memintanya untuk memeriksa ayah. Pemeriksaan itu berlangsung
lama. Ku lihat mantri bolak-balik menuju rumahnya dengan membawa alat
dan obat yang diperlukan. Sebelum berangkat ke sekolah, ku lihat ayah di
kamar. Tidak bisa lagi berbicara seperti biasa. Mulutnya miring, dan
kata-kata yang keluar terdengar hanya bunyi getar-getar parau saja. aku
terisak melihat kejadian itu, ingin aku menghambur ke arahnya,
memeluknya, dan membantu beliau bicara. Tapi tangan ibu mencegahku. Ia
menyuruhku tetap datang ke sekolah, mengingat sebentar lagi aku akan
menghadapi EBTANAS. Akupun berangkat ke sekolah dengan mata sembab dan
pikiran yang tidak karuan. Ayahku kenapa?
Sepulang sekolah, ku
lihat rumah sekaligus toko kami tertutup. Tidak ku jumpai siapa-siapa di
dalam rumah. Tetanggaku menyampaikan pesan, bahwa ayahku dilarikan ke
puskesmas. Ibu, kakak, dan adikku ikut serta membawa ayah ke puskesmas.
Aku dipesankan ibu untuk tetap di rumah. menyelesaikan pekerjaan rumah
dan dilanjutkan belajar untuk menghadapi ebtanas yang tinggal beberapa
hari lagi. Ku selesaikan semua tugas rumah yang sebenarnya aku tidak
bisa mengerjakannya. Memasak, mencuci pakaian, mencuci piring,
membersihkan rumah. semuanya ku lakukan. Aku harus berbagi peran dengan
ibu. Aku tidak bisa terus-menerus meminta bantuan ke ibu. Karena ibupun
harus menunggui ayah, merawat ayah, dan mengurus adik-adikku. Disaat
semua teman-temanku sibuk menggelar kelompok belajar di rumah-rumah
teman atau guru, aku sibuk menyelesaikan pekerjaan rumah, mengurusi
adik-adik, dan menyempatkan diri sekadar membaca kembali buku-buku di
waktu yang serba terbatas.
Kali itulah aku langsung bertanya kepada Allah: “Allah mengapa kau beri keluargaku ujian yang begitu berat?”
Tiga hari toko tutup, sebab ibu harus bolak-balik ke puskesmas untuk
memastikan kondisi ayah yang di rawat inap di sana. Di desa ini tidak
ada rumah sakit. Butuh waktu 4 jam menuju rumah sakit yang ada di
Kabupaten Muara Enim dari kampung ini. alhasil seminggu pula tidak ada
pemasukan keuangan. Untuk menutupi kebutuhan, kami mengandalkan tabungan
ibu. Rasanya aku ingin menangis. Dua abangku tengah duduk dibangku SMP
dan SMA, sebentar lagi aku akan melanjutkan sekolah ke jenjang SMP, adik
terkecil sebentar lagi akan masuk SD. Aku hanya terisak saja
membayangkan bagaimana nanti?
“Nak! Kita hanya butuh kembali
mendekat dan merapat kepada yang Maha. Ia tengah ingin menguji cinta
kita padaNya. Menguji keikhlasan sholat kita, menguji kesungguhan
penghmabaan kita padaNya. Jika benar, kita mencintaiNya, maka sekarang
tibalah waktunya untuk kita percaya padaNya. Percaya pada kasih-sayang
yang Ia punya. Percayalah Nak! Tidak ada kesia-siaan yang ia ciptakan.
Semua pasti punya alasan. Hanya saja sekarang kita belum menemukan
jawabanya. Teruslah berdo’a dan meminta padaNya. Mintalah padaNya pundak
yang lebih kuat dari sebelumnya, serta lutut yang kokoh untuk menopang
beratnya ujian ini.” itulah nasihat ibu, sesaat setelah kami berdua
melaksanakan sholat Tahajud bersama.
Ebtanaspun berakhir.
Hasilnyapun keluar. Alhamdulillah aku lulus, meskipun aku gagal
memepertahankan peringkat di kelas. Ibu yang biasanya keras pada hal-hal
yang berkaitan dengan akademik, kali ini hanya senyum dan memelukku.
Tidak ada kata sama sekali yang ia ucapkan. Aku mengerti, ibu mungkin
tengah menata rasa kecewanya, berusaha keras untuk mengerti kondisi ini.
akupun juga belajar memahami, tidak akan ada reward apapun pada
kelulusan ini.
Selepas menyelesaikan pendidikan SD di palembang,
ibu memintaku untuk melanjutkan pendidikan di Padang. Cuaca desa di
Palembang ini terlalu dingin, tidak cocok untuk kesehatan ayah. Akhirnya
ibu memutuskan untuk membawa ayah ke Padang, dan menyuruhku untuk
merawat ayah di sana. Sedangkan ibu dan kakak-kakakku bahu membahu
berdagang, untuk mendapatkan biaya pengobatan ayah. Alhasil kakak
keduaku memilih berhenti bersekolah, menggantikan tugasku, membantu ibu
dan kakak sulungku berdagang. Aku dan kakak ketigaku melanjutkan
pendidikan di Padang.
Desa tempat tinggalku di Padang, berada di
dataran tinggi. Alhasil sulit bagi kami mendapatkan air bersih dari PAM.
Keadaan inilah yang membuatku harus bolak balik ke kulah (kamar mandi
umum) yang terletak disamping masjid untuk mendapatkan berember-ember
air. (jaraknya dari kampus A-Kampus B) dan itu harus ku tempuh dengan
berjalan kaki. Awalnya aku kesal dengan kondisi ini. Mengapa Allah itu
belum juga berhenti menguji kehidupan keluargaku? Seminggu di padang,
aku hanya kuat mengangkut 2 jirejen air dengan masing-masing berisi 4 Lt
air. Sementara kami membutuhkan banyak air. Selain untuk masak, juga
untuk ayah mandi. Dari pukul 05.00-06.00 wib, aku hanya bisa mengangkut
air sebanyak 40 Lt. Belum bisa memenuhi setengah drum air yang di rumah,
tugas mengangkut air ini ku lanjutkan pulang sekolah. Sejak pukul
13.00-14.30 wib. Itupun hanya berhasil memenuhi setengah drum air.
Melihat kondisi itu, ayah sering sekali menangis dan menyalahkan
dirinya. Aku berusaha harus terus tertawa dihadapan ayah. Aku tak ingin
membebankan pikiran ayah. Sebab semakin banyak hal yang dipikirkan ayah,
itu akan memperburuk kondisi kesehatan beliau. Semenjak itulah setiap
hari, aku belajar berdusta.
Sebulan, dua bulan, akupun akhirnya
terbiasa. Kini aku sudah bisa bersahabat dengan keadaan. Bersahabat
dengan apapun kesulitan yang kujalani setiap harinya. Hal yang paling ku
syukuri adalah, aku memiliki teman yang senantiasa menyemangatiku. Dia
juga yang mengajariku mengangkut air dengan ember berkapasitas 22 Lt
air. Dia yang mengajariku membawa air 22 Lt dengan diletakkan di atas
kepala. Dia yang mengajariku menggulung kain untuk alas kepalaku, agar
tidak terlalu sakit, ketika membawa 22 Lt air. Awalnya air yang ku bawa
22 Lt, sampai di rumah tinggal setengahnya, sebab banyak tumpahnya
selama perjalanan dari kulah menuju rumah. Temanku hanya tersenyum dan
bilang:
“ mudah-mudahan Lim, setelah ini, kau akan mengerti. Bahwa
kehidupan itu keras. Kerasnya kehidupan ini tidak cocok dilawan dengan
hati yang manja. Tapi percayalah! Kesulitan hari ini, akan kita kecap
manisnya nanti, nanti! Mungkin saat kita sudah lupa, bagaimana beratnya
air 22 Lt yng harus kita junjung di kapala kita hari ini”. ku lihat
lingkar senyum tulus terukir di wajahnya.
Benar sekali! Apa yang
ditulis oleh Nadia Key dalam tulisan Bilayer. Saat kita di uji nanti,
sudah tidak ada lagi lagunya : Aku terjatuh, dan tak bisa bangkit lagi”,
melainkan nanti kita akan semakin bangkit, sebab kita tidak sendiri.
Allah tidak akan membiarkan kita sendiri meniti hari selama ujiannya itu
menghampiri kehidupan kita ini. dia pasti akan mengirim orang-orang
yang akan menemani kita dan membantu kita untuk mengurai segala hikmah
yang tersirat dalam setiap peristiwa yang terjadi.
Sejak saat
itulah, aku selalu bersemangat menjalani kehidupan ini. temanku itu
tidak hanya mengajariku membawa air, dia juga yang mengajakku keluar
masuk bebukitan. Mengajariku memilah reranting kayu yang bisa dijadikan
kayu bakar. Dia mengajariku bagaimana menggunakan golok untuk memotong
kayu, mengajariku bagaimana cara menyusun kayu bakar agar banyak yang
terikat, lalu mengajariku bagaimana cara menyusun tenaga untuk
mengingkatkan akar rotan pengganti tali untuk susunan kayu bakar itu.
Sejak itu pulalah, aku senang mencari kayu bakar dan memasakkan sepanci
air hangat untuk ayahku mandi.
Selama di Padang, aku dan tante
mengurusi ayah. Akulah yang mencucikan baju ayah, menyeterika baju ayah,
memotongkan kukunya, membantunya memegangi kaca, ketika beliau hendak
mencukur kumis atau merapihkan jenggotnya. Aku juga yang membantu ayah
mesangkan tali sepatu ketika beliau hendak pergi marathon pada pagi
hari. Mengantarkan payung ke masjid untuknya, jika beliau masih khusyuk
berdizikir di masjid. Menyiapkan tongkat untuknya. atau sekadar
membuatkan secangkir teh dan menemaninya duduk di teras rumah pada sore
hari. Menyaksikan bersama saat jingga menyepuh cakrawala. Pelajaran yang
aku selesaikan pada jenjang ini, aku bisa menyeterika pakaian.
Sederhana memang, tapi proses yang dijalani itu tidaklah mudah. Biasanya
dulu, aku terbiasa menerima pakaian yang sudah bersih dan rapih
distrika oleh ibu. Namun kini, tugas-tugas itu harus kuselesaikan
sendiri. sama halnya, aku bisa menyilapkan api dengan baik pada tumpukan
kayu bakar dan mesakkan ayah sepanci air hangat. Biasanya dulu aku
terbiasa, mengambil air hangat dari termos. Pekerjaan yang biasanya
dikerjakan ibu, sekarang aku yang mengerjakan.
Sering aku
mendengarkan ayah terisak pada sepertiga malamnya, mengadukan apa yang
ia rasa, menyematkan namaku pada bait-bait doanya. Lagi-lagi aku hanya
mampu berdusta, berpura-pura lelap dan menarik selimut menutupi sepenuh
wajahku.
Aku juga belajar bagaimana berakting, tanpa perlu susah-susah dan mengeluarkan biaya
***
Tahun kedua aku di Padang, kondisi ayah jauh lebih membaik. Akhirnya
ayahpun memutuskan kembali ke Palembang, sedangkan aku dan kakakku tetap
di Padang menyelesaikan sekolah kami. Lulus MTs di Padang, ibu dan
kakak-kakakku memaksa aku melanjutkan pendidikan di Jakarta. Ini
pemaksaaan paling kejam yang aku terima. Sebab aku sudah punya rencana
melanjutkan pendidikan ke MAN Koto Baru Bukit Tinggi program khusus,
dari sana aku akan melanjutkan kuliah di Mesir. Namun, mungkin karena
aku belum mampu menyampaikan informasi ini dengan baik kepada keluarga,
ibu dan kakakku bersikeras menyuruhku melanjutkan pendidikan ke Jakarta,
akhirnya akupun pindah ke Jakarta.
Sebelum berangkat dari Padang
ke Jakarta, aku sempatkan mampir ke Palembang untuk sekadar pamit kepada
orang tua. 3 jam aku di Palembang, memanfaatkan waktu bersama ayah.
Ayah bilang:
“Nak! Amanah apapun yang kamu jalani, kerjakanlah
amanah itu dengan sunggh-sungguh. Baik-baik di sana, pandai-pandai jaga
diri. Hati-hati dalam bergaul, dan usahakan jangan pernah merepotkan
orang lain. Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Jangan nakal, inget!
Ayahmu itu bukan siapa-siapa, sudah sakit-sakit begini, mungkin juga
usia ayah tidak akan lama. Kamulah harapan ayah yang bisa membimbing
adik-adik kamu dan menjaga ibumu. Ayah percaya samu kamu” itulah nasihat
ayahku, sebelum akhirnya beliau pamit padaku untuk ke masjid
melaksanakan sholat ashar.
Aku hanya terisak saja mendengar nasihat
beliau, membenamkan wajahku dalam dekapnya yang hangat. Membasahi
lengan baju koko coklat susunya. Ayah menatap wajahku dalam senyumnya.
Aku tahu, ayah tengah berdusta sore itu.
***
Aku melanjutkan
sekolahku di Jakarta. Menjalankan amanah orang tua ini dengan
sebaik-baiknya. Ketika classmeeting semster 2, tiba-tiba telepon rumah
berdering, sepupuku di Palembang mengabarkan bahwa ayahku masuk rumah
sakit. Sontak kabar ini membuat aku terpuruk. Perih, sedih, sakit.
Akhirnya sehari jelang dauroh penguatan SMA, aku bertolak ke Palembang.
Dengan menaiki bis kursi tempel, kutabahkan hati untuk pulang. Janjiku
membawakan rapor dengan bertuliskan peringkat 1 kehadapan ayah tertunda,
karena rapor baru dibagikan pada hari Sabtu. Setiba di rumah, tak ku
temukan ayah, tidak kutemukan wajahnya, peluknya, jemarinya, tidak ada.
Di rumahku dipenuhi para tetangga yang lalu lalang, dengan senyum dan
sapa dalam lingkar wajah penuh sembab. Sibuk aku bertanya, ibukupun
sembari mendekapku, mengatakan bahwa ayah sudah tidak ada, dan sudah
dikuburkan tiga hari yang lalu.
Tidak ada diksi yang bisa mewakili
hatiku ketika itu. Aku hanya menangis dan membenamkan wajahku dalam
dekap itu. Beragam kata keluar dari mulutku, namun yang terdengar hanya
raung-raung samar saja.
“Allah, mengapa kau tak kunjung pasai
memberikan ujian pada aku dan keluarga? Apa salahku? Apakah begitu
besarnya dosaku padaMu, hingga sampai hati kau pilihkan cerita yang
begitu memilukan ini? Padahal baru saja aku merasakan ikhlas, ketika kau
lumpuhkan syraf organ tubuh ayaku, aku juga menerima ketika aku harus
menjalani kehidupan yang tak biasa, bolak-balik mengangkut air,
berikat-ikat kayu aku ambil untuk ayahku, lalu aku juga ikhlas menuruti
kata ibu untuk melanjutkan sekolah Jakarta. Lalu mengapa kini Kau ambil
lagi penyemangat hidupku? Apa Kau tidak iba pada ibuku? kau tidak
kasihan pada adik-adikku? Ibuku terlalu muda untuk menjadi seorang
janda, adik-adikku masih terlalu kecil untuk menjadi seorang yatim!
Itulah kali pertama, aku benar-benar merasa terpuruk sampai tak karuan
kalimat tanya yang meluncur dari lisanku padaNya.
Astagfirullah!
Dua pekan ku lewati liburan penuh duka di Palembang. Berpura-pura tegar
dihadapan ibu, kakak, dan adik-adik. Mencoba menata hati dan
mengikhlaskan segala peristiwa yang dialami. Menata hati kembali, untuk
bangkit. Ayah boleh saja tidak ada, tapi amanat ayah tetap harus
dilaksanakan. Aku harus kembali bangkit, melanjutkan pendidikan, agar
menjadi teladan untuk adik-adik nanti. Setiba di Jakarta, aku hanya
tersenyum, melihat angka satu berdiri tegap di raporku. Aku memenuhi
janjiku pada ayah.
“Ayah, ibu selalu bilang. Kita memang terpisah
oleh ruang, tapi bukan berarti kau jauh dari kami. Ayah, lihatlah! Lihat
angka 1 ini. ini hadiah untuk ayah. Semoga ayah senang ya”. desisku
dalam hati.
Ditinggal ayah, otomatis tugasku dan kakak-kakakku
bertambah. Sebentar lagi aku akan kuliah, adik-adikku sebentar lagi akan
masuk SMP dan SMA. Artinya aku harus membantu mereka dari segi manapun
yang aku bisa. Alhamdulillah tiba-tiba saja dua BANK memberiku beasiswa.
Ini juga tidak terlepas dari doa dari teman-teman seperjuangan di
rohis.
Kata Murobbi benar: “Anak yatim itu, Allah langsunglah yang akan mencukupi rezekinya”.
Ketika aku duduk dibangku kelas 3, tiba-tiba ibu sering sakit-sakitan.
Setelah diperiksa dokter, akhirnya keluar vonis: ibu mengidap kanker
paru-paru. Betapa sedihnya hati ini, menerima takdir ini. ibu yang
biasanya ku lihat kuat, mengerjakan segala sesuatunya sendiri, kini
harus lebih banyak beristirahat. tidak bisa beraktivitas sepadat
seperti yang biasa. Sejak saat itulah aku jadi gelisah, aku takut, kalau
tidak lama lagi Allahpun akan mengambil kembali ibuku.
“ Allah! Kau boleh mengambil apa saja yang aku miliki, tapi jangan kau ambil ibuku dulu.”.
Sejak saat itu, setiap 6 bulan sekali, ibu harus menjalani chekup dari
palembang ke Jakarta dan menjalani rawat jalan. Betapa sesaknya nafas
ini melihat setiap waktu, ibu harus menengak beragam pil dan obat, hanya
agar bisa bernafas pada esok hari. Sempat aku berkata pada ibu:
“Andai saja penyakit ini sebentuk penawaran takdir dari Allah, maka aku
akan minta sama Allah. Sudah! Aku saja yang sakit, jangan ibu. Kalau Ibu
sakit, kasihan adik-adik, nanti mereka bagaimana? Kakak-kakak yang
ketiganya laki-laki harus bagaimana? Siapa yang akan merawat mereka?
Jadi, biarlah aku saja seharusnya.” Ibu hanya berkaca mendengar
ocehanaku.
Hal yang paling menyakitkan hati ini adalah, ketika
saban sehari saat ibu di Jakarta, menyaksikan beliau setiap malam
berjuang untuk mendapatkan udara. Melihat beliau berkeringat ketika
sesak nafasnya kambuh. Dadanya naik turun untuk mencari udara. Kepalanya
tengadah agar kekuatan hirup saluran pernafasannya lebih besar! Betapa
menyakitkannya teman menyaksikan itu semua! Kadang aku sudah tidak
sanggup lagi berdusta, marah-marah ke siapa dan apa saja yang saya
jumpai.
“Allah mengapa? Mengapa ujian ini begitu berat? Mengapa
harus seperti ini? mengapa tidak aku saja yang sakit? Mengapa harus ibu?
Apakah Kau tidak kasihan kepada adik-adikku yang yatim itu?”
Begitulah teman! Kita acapkali nyinyir mempertanyakan banyak hal
padaNya, yang terkadang saat itu, belumlah waktunya bagi kita untuk
mengetahui segalanya. Sama halnya ketika kita menaiki anak tangga, kita
ingin sekali lekas-lekas tiba di jenjang paling atas tanpa memedulikan
keamanan bagi kita, menjadikan kita kurang hati-hati, dan akhirnya
terjatuh. Otomatis ketika kita terjatuh, kita harus memulai lagi dari
awal, dari anak tangga terbawah lagi.
Kali itu, aku benar-benar belum mendapatkan jawaban dari runtunan ujian itu.
***
14 April 2011
Aku baru saja pulang dari salah satu sekolah, untuk mengatur jadwal
observasi mata kuliah telaah kurikulum. Tetiba Hpku berdering. Sepupuku
mengabarkan bahwa sakitnya ibu kumat, dan hari itu juga aku harus pulang
ke Palembang. Sesaat setelah menerima telepon itu, aku panik. Segera ke
masukkan beberapa helai baju ke dalam tas gemblokku. Aku, kakak, dan
omku bertolak ke Palembang. Baru saja tiba di gapura desa, aku tidak
langsung menuju rumah, melainkan langsung diajak ke tanah pemakaman. Ku
lihat di sana, tubuh ibu berbalut kain kafan, terbujur di dalam sebuah
keranda. Bukan main marahnya aku pada diriku sendiri.
Dulu aku tak sempat berpamitan pada ayah!
Tak sempat menyalami punggung tangannya untuk yang terakhir!
Tak sempat menyolatkannya!
Bahkan aku tak sempat sekadar menatap wajahnya!
Ayahku sudah terbaring di liang lahat selama 3 hari, baru aku tiba di tanah pusara ini!
Sekarang!
Akupun tidak bisa menemani ibuku jelang kepergiannya keharibanMu!
Belum sempat ku hadiahi ia sebuah toga!
Belum sempat ku tunaikan baktiku padaNya!
Belum selesai ku laksanakan amanat ayah untuknya!
Akupun tak sempat menyolatkannya!
Allah bicaralah padaku!
Dimana letak kesalahanku!
Sebesar apakah, pengkhianatanku padaMu!
Hingga sepahit ini, kehidupan yang harus ku jalani!
Allah! Bicaralah padaku!
Beritahu aku!
Aku terduduk di atas tanah merah itu, menyaksikan perlahan-lahan. Tubuh
ibu dimasukkan ke liang lahat. Hatiku basah oleh nestapa. Wajahku
bersimbah air mata. Aku habis kata-kata. Semakin perih hati, ketika ku
saksikan kedua adikku duduk dipinggir pusara, sembari memangku kedua
lututnya, teriak menangis, menanggil-manggil ibu. Padahal senin besok,
sibungsu akan menghadapi UAN SMP, malang betul kondisinya. Aku kembali
mengatur nafasku, mengeringkan airmata, memberesi remah-remah isak, lalu
dengan menegar hati ke rangkul kedua adikku, mengajak mereka menadahkan
tangannya ke langit. Meminta belas kasih dari Allah, agar Allah
berkenan mengampuni dosa-dosa ibu, dan menerima segala amal ibadah
beliau. Sesuangguhnya kami bersaksi, ibu telah menyelesaikan amanahNya
dengan sangat baik, memngandung kami, melahirkan kami, menyapih kami,
membesarkan kami, medidik kami, mencukup segala kebutuhan kami, bahkan
ketika ayah meninggalkan kami, ibu pulalah yang menjalankan peran ayah,
menafkahi kami.
Akupun mengerti mengapa Allah mengambil ibuku,
sebab Allah rupanya lebih besar sayangnya pada ibu dari pada sayangku
pada ibuku. Allah lebih mencintai ibuku, ketimbang cintaku pada ibu.
Inilah jalan terbaik untuk mengakhiri penderitaan ibu. Selamat istirahat
ibu, mulai sekarang ibu tak usah lagi bersusah payah menghirup udara,
ibu tak usah lagi merasakan sakit. Allah sudah menyuruh ibu, untuk
beristirahat dengan tenang.
Pelajaran berharga yang bisa ku ambil:
Berbaik sangkalah kepada Allah dan milikilah nafas yang panjang, agar
Allahpun berlaku sesuai dengan prasangkamu padaNya dan memberikan
kekuatan untuk kita agar bisa kembali bangkit!
Teman! Ini hanya
sekelumit ujian hidup yang Allah berikan pada seorang manusia seperti
saya. Mari kita lihat ke bawah, banyak saudara-saudara kita yang
mengalami ujian yang serupa, atau mungkin jauh lebih berat dari ini.
Sesungguhnya Allah itu sayang sekali kepada kita. Betapa tidak! Lihatlah
banyak anak-anak yatim-piatu, yang tidak memiliki rumah, sehingga
mengharuskan mereka harus tinggal di panti asuhan. Banyak anak-anak
yatim-piatu yang lain kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka,
tapi Allah justru mencukupi kebutuhan itu untuk saya dan keluarga.
Banyak anak-yatim piatu yang lain, terpaksa berhenti sekolah untuk
bekerja agar bisa menyambung hidup dari ke hari, sedangkan Allah
mencukupi rezeki saya dan keluarga, saya bisa berkualiah, adik-adik saya
bisa berkualiah, Allah cukupkan kebutuhan ini.
Coba! Kita pikirkan
kembali. Kurang sayang apa lagi Allah dengan kita? Terlebih yang masih
Allah cukupkan nikmatnya, dengan keberadaan orang tua yang lengkap,
rezeki yang cukup.
Teman! Ujian itu akan terus mendera kita, selama
kita hidup. Ujian itu akan berhenti menyambangi kita, ketika kita sudah
tiba pada tujuan akhir kita (kematian). Maka, jangalah kita meminta
Allah menghentikan ujian itu, tapi mintalah kecadasan hati untuk
menerimanya, kekokohan pundak untuk mengembanya, dan kokohan lutut untuk
menopangnya. Kehidupan itu terus berjalan, jangan sampai ujian yang
sekelumit itu, menjadikan kita rugi dalam banyak hal. Membuat kita
lemah, dan akhirnya membuat kita terpuruk dan jauh tertinggal. Kejarlah
apa yang menjadi cita-cita kita. Lakukan yang terbaik yang bisa kita
lakukan. Manfaatkan setiap momnetum yang Allah berikan. Berbuat baiklah
kepada orang tua kita, selagi mereka masih ada, buatlah mereka bangga,
buatlah kakak kita bangga memiliki adik seperti kita, buatlah adik kita
bangga, punya kakak seperti kita. Buatlah jundiyah kita bangga punya
qiyadah seperti kita, buatlah qiyadah kita bangga punya jundi seperti
kita, buatlah jamaah bangga, punya kader yang luar biasa militan seperti
kita, dan terutama buatlah Allah bangga, mempunya hamba yang tangguh
seperti kita.
Jatuh, terpuruk, sedih, terpukul, sakit, itu adalah
gejala manusiawi yang pasti dihadapi oleh setiap manusia, tapi bagaimana
cara kita bangkit, itulah yang membedakan kita dengan manusia yang
lainnya. Setiap kita, punya kesempatan untuk bangkit. Hanya pilihannya
kita mau atau tidak?! Jangan pernah merasa menjadi makhluk paling
menderita sedunia, banyak sekali saudara/i kita yang hidupnya lebih
menderita dari kita, lebih berat ujiannya ketimbang kita pada hari ini?
tapi mengapa mereka bisa bangkit, kita tidak?! Bukankah kita sama-sama
manusia? Bukankah tuhan kita sama, yaitu Allah?!
Mari kita tata
kembali impian –impian kita yang tertunda, sesungguhnya banyak yang
tengah menanti keberhasilan kita. Bukan hanya kita! Ada orang tua kita!
Ada keluarga kita! Masyarakat sekitar kita! Bahkan negara ini! bumi
Allah ini!
Jangan buat mereka yang tengah menati keberhasilan
kita itu, kecewa hatinya, kecewa hanya karena hati kita yang terlalu
manja. Jangan sampai......
Carilah alasan untuk bangkit!!!
Alasanku adalah aku ingin jadi kakak yang kuat, agar adik-adikku kuat!
Aku ingin jadi adik yang kuat1 agar kakak-kakakku juga lebih kuat! Dan
aku ingin ak-anakku kelak jadi muslim/ah yang kuat! Yang militan! Untuk
mendapatkan itu semua, kita pribadi harus kuat dulu!
Dan apa alasan kamu untuk bangkit...........................................................................(isi sendiri)