Q.S: Yusuf; 33
Artinya: “wahai Tuhan, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh.
Ketahuilah akhwatifillah,,,
Selama nafas masih berhembus, selama jantung masih berdegup, maka selama itu pula hidup kita ini akan terus di uji. Ujian itu akan terus menguji iman kita, aqidah kita, dan loyalitas kita terhadap agama dan jalan dakwah yang telah kita pilih ini. dari firman Allah di atas, di ceritakan bagaimana seorang Nabi Yusuf ternyata lebih memeilih penjara daripada memenuhi godaan Zulaikha (karena jelas, salah satu ujian dari seorang laki-laki adalah perempuan). Padahal jika saja Allah tidak menjaga kekokohan iman dan aqidahnya, maka tentu saja Nabi Yusuf sudah melakukan perbuatan maksiat. Itulah salah satu alasan mengapa perlunya hubungan baik dengan Allah menjadi prioritas kita untuk didahulukan. Dan pada dasrnya karena hidayah Allahlah hati dan akal ini terdorong dalam melakukan suatu kebaikan.
Ketahuilah akhwatifillah…
Bahwasanya ujian itu akan menguji kita sampai titik terlemahnya. Jika titik terlemah kita pada hari ini adalah kemalasan, maka seruan kebaikan itu akan datang, manakala hati kita sangat malas untuk melakukannya. Jika hari ini ujian kita adalah materi, maka seruan kebaikan itu akan datang, pada saat tawaran materi berlimpah itu datang menjambangi kita, begitulah seterusnya.
di sinilah akan terlihat al-wala’ kita kepada Allah. Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban kita akhwatifillah menjaga hidayah yang Allah berikan, dengan tetap kontinyu dalam bermala shaleh.
Q.S At-taubah: 24
Artinya: “jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinnggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada allah dan RosulNya, serta berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusanNya. Dan Allah tidak akan memberikan perunjuk kepada orang-orang fasik.
Akhwatifillah…ketahuilah, bahawasanya Allah akan menguji loyalitas iman kita dengan harta yang kita miliki, anak yang kita miliki, jabatan yang kita miliki hari ini. seorang ibu akan diuji dengan anakanya, seorang pengusaha akan diuji dengan hartanya, dan seorang pejabat akan diuji dengan jabatannya. Allah akan melihat, apakah dengan semua nikmat dan karunia yang Allah berikan, kita semakin dekat denganNya atau justru semakin jauh. Melalui ayat ini akan terlihat pula skala prioritas kita, keluarga kitakah atau Allah yang telah mengaruniakan keluarga untuk kita? Dan sudah seyogyanya kita faham seutuhnya, prioritas kita adalah Allah, rosul, baru suami.
Q.S At-taubah: 41
Artinya: “berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwa di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.
Akhwatifillah…
Bersegeralah dalam kebaikan apapun kondisi yang sedang kita hadapi, baik ringan maupun berat, bahkan usahakan kita memilih azimah daripada rukhsah, meskipun kita diperbolehkan untuk mengambil rukhsah. Biasakanlah mencari alasan untuk ikut mengambil bagian dalam sebuah kebaikan, bukan mengadakan beribu alasan untuk tidak menjadi bagian dalam sebuah kebaikan. Dan bermujahadahlah terhadap kebaikan yang sedang kita lakukan baik suka maupun tidak suka, baik nyaman maupun tidak nyaman, senang nmaupun tidak senang, selama hal itu lebih banyak mengandung manfaat daripada muhdharat. Paksalah diri untuk cenderung berbuat kebaikan, hingga paksaan menjadi kebiasaan, dan janganlah kita khawatir kerena Allah selalu menuntun dan bersama kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar