Minggu, 26 Februari 2012

SEMERBAK PANDAN WANGI


“ percayalah Mak, Pandan pasti akan kembali menapaki dusun kelahiran ini. Sesenanang apapun kehidupan di tanah rantau nantinya, tapi keinginan hati kecil untuk kembali, tidak bisa juga dinafikkan-tidak sedikitpun Mak”. Ujarku pada ibu yang sedang sibuk melipati pakaian yang akan ku bawa nanti.
“ Emak percaya Nak, emak percaya. Tapi kerisauan hati seorang ibu melepas anak gadisnya masih juga menyaputi hati emakmu ini. Merelakan hati dan membiarkan anaknya seorang diri di tanah orang”. Ujar ibu, sembari sesekali menyeka airmatanya dengan ujung selendang hitamnya.
“ kita hanya butuh kesabaran dalam melawan kemanjaan hati Mak, dusun ini perlu perubahan, perlu kemajuan. Kita tidak bisa terus menurut saja apa kata orang, yang belum tentu memberikan kebaikan untuk orang banyak. Hari ini memang penghidupan kita boleh dibilang lebih dari cukup, tapi berjuang untuk tetap hidup tidak hanya untuk hari ini, dan tidak hanya untuk orang per seorang”. Bujukku pada ibu lalu membenamkan wajahku pada dekapannya.
Ibuku hanya diam terpekur, lalu membelai kepalaku dengan hati yang penuh getir. Aku tahu ini tidaklah mudah, apalagi semenjak ayah tidak ada, ibu semakin siaga dalam menjagaku. Mencoba memaksimalkan perhatiannya supaya kekosongan figur ayah tidak pernah kosong dalam hidup kami. Tapi nuraniku, tidak bisa terus menerus membiarkan hidup berpangku tangan pada ibu yang semakin renta dimamah usia. Akhirnya tawaran melanjutkan pendidikan ke tanah Jawapun aku terima. Demi kebaikan di masa depan, aku harus relakan berpisah sejenak dengan orang-orang yang aku sayang.
Keesokan harinya, setelah semua ku anggap siap, akupun menyalami punggung tangan ibuku sebagai petanda perpisahan. Ibuku dalam derai yang tak lagi tertahan dengan serta-merta memeluk erat tubuhku dan menciumi wajahku.
“ hati-hati Nak, tak ada yang bisa Emak berikan kecuali do’a yang tak akan pernah putus Emak panjatkan di setiap sholat untukmu Nak. Pesan emak cuma satu, hati-hati bergaul di tanah rantau. Pulanglah, di setiap kali kesempatan dan jaga diri kau baik-baik di sana.” Kata ibuku dengan suara lirih dan kembali mendekap tubuhku.
Tak ada kata yang dapat ku ucap, selain memohon do’a restu. Ku tahankan hati dan mataku yang mulai menggenang riak. Lalu ku rasakan ngilu menukik di palung hati ini, mengaduk-ngaduk tekadku. Tapi aku tidak akan mundur, iya! Aku tidak akan mundur. Sekali layar terkembang, pantang biduk berbalik ke belakang.
            Dengan lafadz basmallah akupun menyusuri jalanan bebatuan dengan aspal yang tak sempurna, kemudian menaiki angkutan L 300 yang sudah terparkir di simpang tiga. Dari balik kaca mobil, ku lihat senyum merekah dari wajah ibu yang bersimbah airmata. Ku balas senyum ibu dengan lambaian tanganku, dan mobil yang kutumpangipun menderu melaju.
“ tunggu aku Mak, tunggu sampai aku datang. Kelak, jika ku rasa aku sudah letih mengarungi luasnya negeri di luar dusun ini, aku akan pulang dan tak ada yang ku lakukan, selain menyenangkan dirimu dan bersama melalui hari tuamu-hanya ada kita Mak”. Batinku.
Kemudian dari permukaan kaca spion mobil, ku pandangi wajah ibuku, yang semakin lama semakin kecil. Lalu atap rumahku, lalu surauku, simpang tiga itu, kemudian semunya hilang ditelan setiap tikungan jalan. Yang ada hanyalah celoteh penumpang yang ingin berangkat ke ladang. Sesekali diantara mereka meludahkan sirih yang telah terlalu lumat dikunyah gigi kuning mereka ke luar jendela mobil. Daun-daun kering berterbangan, dihantam laju kendaraan yang ku tumpangi kemudian terserak memenuhi badan jalan, diantaranya ada yang terselip di antara ilalang lalu membusuk di sana.
Terakhir adalah panorama air terjun Bedegung  yang jatuh tak berdaya, di atas bebatuan besar. Kemudian melesat cepat menelusuri sungaai Muaro Meo yang nantinya bermuara di sungai Musi, sungai yang membelah jantung kota provinsi Sumatera Selatan ini.
“ tetaplah bergemericik duh air terjun, teruslah melantunkan melodi-melodi bahagia, supaya nani gemericik kebahagian itulah yang akan memercikan semangat berjuang untukku di setiap harinya”. Batinku.
Lalu tibalah aku di sebuah terminal, setelah menyerahkan karcis yang telah ku beli tempo hari, seorang kurir menyilahkan aku menunggu. Beberapa saat kemudian bus yang ku nantipun datang. Aku bersamaan dengan penumpang yang lainpun bergegas menaiki bus dan mencari nomor urut kursi yang tertera di sobekan karcis yang diberikan oleh bagian administrasi tadi.
Aku pergi….pergi untuk kembali lagi ke sini….
***
“ makan siang yuk Mbak?” ajak Romli padaku pada saat jam istirahat siang.
“ duluan aja Mas,  saya masih ada tugas yang harus saya selesaikan”. Tolakku sembari membalik jilidan kertas tugas para siswaku.
“ tinggal aja sebentar dulu, ntar lanjutin lagi. Makan dulu Mbak, nggak baik nunda-nunda waktu makan”. Ajaknya lagi.
Setelah berpikir sejenak, akupun menerima tawaran makan bersama. Sekalian ingin menanyakan hasil rapat guru kemarin siang. Karena kebetulan aku berhalangan hadir, karena harus mendampingi anak-anak KIR lomba di sekolah lain.
Kami duduk saling berhadapan di sebuah meja makan. Seperti zaman kuliah dulu, menu favorit Romli adalah soto Lamongan, dan seperti biasa juga aku lebih memilih makanan masakan Padang.
“ gimana Mas, hasil rapat kemarin?” tanyaku sembari mengaduk-aduk nasiku agar semua kuah gulai tunjang merata ke setiap nasi.
“ semuanya siswa naik kelas”. Jawab Romli datar.
“ semua naik?  Bukannya katanya  si Reza anak yang punya yayasan bermasalah ya?” tanyaku bingung.
Reza adalah salah satu siswa di sekolah ini. Orang tuanya adalah ketua yayasan tempatku mengajar. Reza acapkali teringgal dari setiap mata pelajaran-khususnya yang berbau eksakta dan senang membuat kerusuhan. Sebenarnya Reza adalah salah satu anak berkebutuhan khusus, tapi entah mengapa dia disekolahkan di sini.  Pernah beberapa kali, aku menyarankan kepada Pak Salman-ayahnya Reza sekaligus ketua yayasan, agar Reza di sekolahkan disekolah yang memang melayani anak yang berkebutuhan khusus. Tapi selalu di tampi dengan berjuta alasan. Aku hanya diam, dan hanya bisa sebatas menyarankan.
“ ya naik semua. Pak Salman mendatangi rumah saya dan memohon agar anaknya bisa dinaikkan. Awalnya saya menolak, tapi kasihan juga. Kasihan sama anaknya, kasihan sama guru yang mengajarinya, kasihan sama temen-temennya juga,  Makanya lebih baik anak pak yayasan cepet-cepet lulus”. Jawab Romli dengan wajah tanpa bersalah.
“ dan Mas, pasrah aja gitu”. Tanyaku meyakinkan.
“ terus mau gimaa lagi. Pak Salman itu, paling sensitiv hatinya, apalagi kalau sudah menyinggung soal anaknya yang bangkang itu.” Jawab Romli santai sembari menyeruput es tehnya.
“ Mas! Kita ini adalah pendidik. Maka tugas kitalah yang mendidik para siswa kita. Mereka adalah tanggung jawab kita. Jika hari ini Reza seperti itu, maka hal itu adalah sebuah isyarat agar kita lebih gigih dalam mendidiknya. Kalau seperti ini, secara tidak langsung kita lepas tangan dari amanah mulia ini, dan akan banyak reza-reza yang lain berdatangan lagi, lalu hanya beginikah masa depannya, digantung masalah???”. Komentarku dengan suara yang membara. Ada sentilan, yang menjadikan emosi sedikit menggelegak.
“ kita harus realistis Mbak. Dan hari ini nyatanya idealisme kita berbenturan dengan kenyataan yang mengharuskan kita untuk memilih. Saya punya anak dan siteri yang harus saya hidupi. Apalah pengaruh  kedudukan saya, yang hanya seorang pegawai swasta. Saya tanya sama mbak, kalau saya menolak permintaan yang punya yayasan, kemudian saya dipecat, lalu siapa yang harus menghidupi saya, anak dan isteri saya? Mbak gitu?” tanyanya seperti anak kecil.
“ Rom, asal kau tahu kawan. Aku rela pergi merantau meninggalkan ibuku seorang diri dan tanah kelahiran yang paling aku sayangi demi memperjuangkan hak-hak wong cilik di kampungku. Pernah selama dua catur wulan, jumlah nilai raporku tidak di tulis oleh wali kelasku. Kau tahu kenapa? Hanya karena ibuku menolak memberikan hutangan padanya. Ibuku menolak karena sudah setumpuk hutangnya menghiasi buku bon. Sementara ayahku terkena stroke dan membutuhkan pengobatan yang luar biasa mahalnya. Lantas dengan melenggang si ibu guru mengatakan: “ bahwa ia lupa”. Kau tahu Rom, betapa terlukanya hati ayahku, ketika tahu bahwa aku tidak lagi mendapatkan peringkat di kelas, di tambah lagi dengan raporku yang tak lengkap penulisan jumlah nilainya. Ayahku hanya tersenyum, lalu memutar kursi roda menuju ke kamarnya sekedar menyeka airmata yang sedaritadi disurukkanya dari hadapanku. Lalu keesok harinya ayahku menyelipkan sebuah buku cerita di dalam tasku sebagai kado kecil atas prestasiku. Semenjak hari itulah aku berjanji, aku akan menjadi seorang pendidik yang tidak akan berlaku sekerdil itu. Sekarang ku Tanya padamu kawan, kalau bukan kita yang memperjuangkan sebuah idealisme kebenaran, maka siapa lagi? Orang tua kita yang hanya berijazah SD itukah? Para kuli di pasarkah? Siapa?” tanyaku dengan nada tinggi.
“ sok idealis mbak, juga nggak menguntungkan Pandan. Sekarang kondisinya, hanya kau belum terbentur masalah saja. Coba kalau kau di posisiku…” belum selesai Romli berbicara aku langsung memotongnya.
“ lebih baik sok idealis, dari pada sok tidak idealism,  akalmu sedang meronta pada nuranimu Rom, kau sedang bergulat dengan hati kecilmu. Yang member rezeki itu hanya Allah semata, bukan Pak Salman, bukan aku, bukan juga karena kau hanya seorang pegawai swasta”. Lirihku sembari menyeruput es teh yang sudah terlanjur cair, karena udara panas terlanjur lebih panas dari yang semestinya, ditambah dengan rasa pedas dan  hati yang makin mutung.
“ Sudahlah Mbak, ganti topik aja yuk. Oh ya, kapan pengumuman hasil seleksi CPNSnya? Udah keluar belum?” Tanya Romli sambil menyeruput detik-detik terakhir kuah sotonya.
“ beberapa minggu lagi katanya”. Jawabku datar.
“ semoga keterima ya Mbak”. Tambahnya.
Aku hanya menunduk dengan wajah yang memerah. Romli-Romli, betapa dahulu aku mengagumi, betapa takjubnya hatiku saat dengan lantang kau suarakan rintihan suara sesama rekan-rekan mahasiswa diatas mimbar-mimbar itu. Lalu pertama kalinya ku rasakan suntikan semangat menghujam kuat di benakku saat kau pekikkan-Hidup mahasiswa!-, dan karena itu pula pertama kali aku belajar soal perjuangan dan pengorbanan. Lalu luka dan airmata yang ditorehkan oleh suara-suara mahasiswa yang tak lagi terdengar oleh para birokrat telah menjadi kudapan kita setiap harinya. Kesulitan itu kita rasa dan kita tanggung bersama-sama.
Lalu betapa menangis dan perihnya hatiku hari ini, ketika kudapati dirimu yang dahulunya hebat itu, tak bisa berbuat hanya sekadar  mencoba untuk bertahan. Duhai kawan, maafkan aku, karena nyatanya keberadaanku di dekatmu tak cukup mampu membantumu. Maaf…
***
Gerimis mengguyur dusun ini tiada henti. Seakan tak pernah pasai menggurat duka sepanjang hari. Ku tapaki lereng bukit kopi itu dengan wajah sendu, mengikuti segerombolan orang yang menjunjung sebuah keranda. Tanah merah lunak dan semakin lunak tersiram rinai-rinai hujan, telah juga bergelayut dan menempel di tapak sandal-sandal kami. Sesekali langkahku terhenti mengikis ketebalan tanah di tapak sendalku, kemudian melanjutkan pendakian itu dengan riak yang menggenagi kelopak mataku.
Beberapa biji kopi yang merah ranum, berguguran bagai manik putus pengarangnya, kemudian terserak diatas pusara dengan nisan tanpa nama. Dan  rerumput liar telah melilit pohon-pohon liar, yang sedikit membuatnya belukar. Ku dongkakkan kepalaku memandang langit, ada lingkaran pelangi yang menghiasi langit gelap untuk menyampaikan rasa belasungkawanya padaku.
Allahummagfirlaha, warhamhaa, wa’afihi, wa’fuanha. Allahhumma latakhrimna ajroha, walaa taftinna ba’daha, waghfirlana walahaa.
…sejatinya, bukan kepulangan seperti ini yang ku inginkan duh emak, tapi kepulangan yang disambut dengan senyum yang merekah, lalu menyaksikan permata biru yang menyipit karena ketebalan  alis menahan renggangan senyuman. Lalu ku rasakan kehangatan saat ku salami punggung tanganmu. Tapi tentunya Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hambanya. Ya kan Mak?
***
Cahaya matahari malu-malu mengintip dari balik tirai nyiur kelapa. Dan silaunya mecacah sebagian wajahku.
“ bagaimana Pandan, apakah kau akan kembali lagi ke tanah jawa? Kapan mau berangkat?” Tanya Hayati padaku di suatu senja.
“ kalau aku tetap di sini, apa yang bisa ku lakukan untuk membantumu?” aku balik bertanya, dengan tatapan lurus ke depan.
“ kau ini masih saja suka bergurau rupanya? Gaji besar telah menantimu di sana Pandan.” Jawab Hayati dengan tertawa kecil. Senyumnya menawan dengan deretan gigi rapih dan putih bersih.
“ oh tidak ada ya?” tanyaku lagi menyunggingkan senyum dua lubang.
“ banyak kalau kau mau. Sesuai dengan peraturan pemerintah pusat, bahwa setiap anak yang akan mulai masuk Sekolah Dasar harus mengikuti pembelajaran di taman kanak-kanak dan mendapatkan piagam/surat keterangan dari taman kanak-kanak, sebagai salah satu syarat agar dapat bersekolah di SD negeri. Masalahnya dusun ini tidak memiliki tenaga pengajar untuk itu. Selain honornya yang kecil dan tidak tetap, ditambah dengan masa depan yang suram”. Tutur Hayati panjang lebar.
“ kalau begitu, aku siap”. Ucapku singkat.
“ seriuskah kau Pandan?” Tanya Hayati tak percaya.
“ salah satu alasan mengapa emakku memberikanku nama Pandan Wangi, karena emakku ingin, agar suatu hari nantinya, aku bisa menebarkan aroma wangi di dusun ini. Dan aroma wangi itulah yang setiapnya harinya menebarkan ke seluruh penjuru dusun, hingga penjuru negeri. Dan masyarakatnya akan betah berlama-lama di dalamnya, hingga yang merantaupun, ingin lekas-lekas pulang, demi menghirup aroma wangi dari Pandan Wangi. Jika baktiku yang segelintir ini, mampu membuat masyarakat mau bersekolah, mengapa tidak?”
“ kau masih saja seperti kanak dulu Pandan, kau hobi bercerita. Dan karena cerita itulah aku mengagumi. Kau selalu membuat aku cemburu, karena nilai mengarangmu selalu mendapat hasil yang sempurna, kau sama seperti Pak Cik-ayahmu suka mendongeng”. Ujar hayati dengan mata berkaca-kaca.
***
“ Reza?!”
“ Ibu Pandan?”
“ ini Reza anak Pak Salman?”
“ iya Bu, ini saya Reza”.
Tiba-tiba di tengah pasar, aku bertemu dengan Reza si murid bangkang itu. Aku tak percaya dengan pandanganku itu, lalu akupun menepuk-nepuk pipiku. Tapi ku rasakan perih menggigit menusuk-nusuk saraf wajahku.
“ kamu kok bisa di sini?”
“ lha iya, ibu kok juga bisa ada di sini?” ia pun balik bertanya.
“ lhaa, kampung saya di sini”. Jawabku dengan tangis haru.dan  dengan serta merta ku peluk dirinya. Lama baru aku melepaskan dekapanku.
“ ihhh ibu, saya kan udah gede. Bukan Reza yang kecil dulu, yang bisa di cubit-cubit pipinya” kata Reza dengan wajah merah delima.
“ maaf-maaf, itu spontan aja Za, saking shocknya jadi salah tingkah begini.” Jawabku wajah merah jambu.
“ iya gak apa-apa Bu, oh ya ibu beli apa?”
“ biasa, beli bahan-bahan makanan buat seminggu. Kamu kok bisa di sini Za?’ tanyaku penasaran atas kebetulan ini.
“ iya Bu, saya sama temen-temen saya lagi penelitian di sini. Kita lagi meneliti kualitas bijih kopi di dusun ini. Nah! Kita mau ngebandingin apa bedanya kopi di sini dengan kopi Medan.. Dan mau mastiin juga apa bener asal muasal kopi di sini, bibitnya adalah kopi-kopi yang berasal dari Medan, atau justru sebaliknya, atau bisa jadi ini adalah varian dari jenis kopi Medan dan sebaliknya juga?”.
“ oh gitu. Ihh nggak nyangka ya, anak badung kayak kamu akhirnya bisa juga meneliti segala, hehehehe”. Celotehku menyindir.
“ ah ibu, itu kan masa lalu. Sekarang udah berubah seperti nasihat-nasihat ibu dulu. hehehehe. Kata Ibu Pandan dulu, kalau aku bisa berhenti merokok, Ibu bakalan ngajak aku nonton di bioskop nonton Nagabonar I, hehehe”. Ujar Reza balas meledek.
“ ke rumah Ibu yuk Za. Di rumah ada bapak. Kebetulan banget tadi bapak beli duren. Tinggal masak ketannya doing”. Ajakku pada Reza.
“ boleh deh Bu, tapi saya rame-reme Bu sama temen saya. Boleh emang?” Tanya Reza memastikan.
“ jangankan temenmu, semua warga RT, RW dan kelurahan kamu, juga boleh diajak semua, heheheh”. Candaku dengan tangan yang digelayuti keranjang belanjaan.
“ oke Bu, nggak baik nolak rezeki. Yaudah sebelum ke rumah ibu, mampir dulu ke rumah tempat saya numpang nyamperin temen-temen dulu”.
“ oke, siip”. Jawabku dengan mengancungkan jempolku.
***
Sepulang mengajar kudapati suamiku sedang duduk berjuntai di pintu dapur. Sembari menunggu air hangat yang sedang dijarangkan di atas tungku. Lalu dari belakang ku peluk dirinya, sembari menutup matanya.
“ Bang?”
“ ehmmmmm”.
“ kenapa abang mencintai aku, padahal begitu banyak wanita yang ngantri di pinang abang”.
“ karena Allah. Dan Allah tak pernah salah dalam memutuskan. Nyatanya menurut Allah dari sekian wanita cantik yang ada di muka bumi ini, enkau yang tak sempurna inilah yang terbaik buat abang.”. Jawab Bang Ryan padaku. Sembari melepaskan tapak tangku yang menutupi matanya.
“ mengapa abang begitu yakin?” tanyaku lagi.
“ kan udah istikharah”. Jawab suamiku itu, sembari memadamkan api tungku. Karena air panasnya sudah mendidih.
“ sekarang giliran abang, kenapa adik mencintai abang? Padahal abang bukan orang yang humoris seperti daftar persyaratan suami impian adik?”
Akupun memeluk suamiku, dan membisikkan sebait jawaban untuknya.
“ Cintaku adalah syurga, yang tak bisa ku masuki tanpa dirimu suamiku”.*
Ku rasakan sedikit sesak dalam helaan nafasku, seperti ada yang menyekat di rongga paru-paruku. Pandanganku yang semula nanar, bertambah kelabu, tak tampak olehku siapapun-kecuali dunia yang gelap pekat-
…dan aroma pandan wangi menyeruak memadati setiap sudut desa, setiap tikungan, dan disetiap helaan nafas…
“ Saya nanamai yayasan ini, dengan Pandan Wangi. Untuk mengenang jasa seorang wanita yang pertama kali merintis pendidikan taman kanak-kanak di dusun ini. Semoga tunas-tunas muda dari akar pandan itu terus menjalar dan melahirkan dedaun pandan yang rimbun, dan kelaknya generasi baru akan mengharumkan nama Negara ini degan jutaan prestasi yang mereka ukir, dengan semerbak wangi pandan dan mampu mengarumkan Indonesia baik di kancah Nasional maupun Internasional  kelaknya…”. Ujar Muhammad Chozin Fachriyan pada saat peletakan batu pertama sebuah yayasan yang ia dirikan.
*Penggalan pusi Asma Nadia-Sakinah Bersamamu.

Sabtu, 25 Februari 2012

Tadabur Al-Qur’an: al-wala' wal baro'


Q.S: Yusuf; 33
Artinya: “wahai Tuhan, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh.
Ketahuilah akhwatifillah,,,
Selama nafas masih berhembus, selama jantung masih berdegup, maka selama itu pula hidup kita ini akan terus di uji. Ujian itu akan terus menguji iman kita, aqidah kita, dan loyalitas kita terhadap agama dan jalan dakwah yang telah kita pilih ini. dari firman Allah di atas, di ceritakan bagaimana seorang Nabi Yusuf ternyata lebih memeilih penjara daripada memenuhi godaan Zulaikha (karena jelas, salah satu ujian dari seorang laki-laki adalah perempuan). Padahal jika saja Allah tidak menjaga kekokohan iman dan aqidahnya, maka tentu saja Nabi Yusuf sudah melakukan perbuatan maksiat. Itulah salah satu alasan mengapa perlunya hubungan baik dengan Allah menjadi prioritas kita untuk didahulukan. Dan pada dasrnya karena hidayah Allahlah hati dan akal ini terdorong dalam melakukan suatu kebaikan.
Ketahuilah akhwatifillah…
Bahwasanya ujian itu akan menguji kita sampai titik terlemahnya. Jika titik terlemah kita pada hari ini adalah kemalasan, maka seruan kebaikan itu akan datang, manakala hati kita sangat malas untuk melakukannya. Jika hari ini ujian kita adalah materi, maka seruan kebaikan itu akan datang, pada saat tawaran materi berlimpah itu datang menjambangi kita, begitulah seterusnya.
di sinilah akan terlihat al-wala’ kita kepada Allah. Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban kita akhwatifillah menjaga hidayah yang Allah berikan, dengan tetap kontinyu dalam bermala shaleh.

Q.S At-taubah: 24
Artinya: “jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinnggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada allah dan RosulNya, serta berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusanNya. Dan Allah tidak akan memberikan perunjuk kepada orang-orang fasik.
Akhwatifillah…ketahuilah, bahawasanya Allah akan menguji loyalitas iman kita dengan harta yang kita miliki, anak yang kita miliki, jabatan yang kita miliki hari ini. seorang ibu akan diuji dengan anakanya, seorang pengusaha akan diuji dengan hartanya, dan seorang pejabat akan diuji dengan jabatannya. Allah akan melihat, apakah dengan semua nikmat dan karunia yang Allah berikan, kita semakin dekat denganNya atau justru semakin jauh. Melalui ayat ini akan terlihat pula skala prioritas kita, keluarga kitakah atau Allah yang telah mengaruniakan keluarga untuk kita? Dan sudah seyogyanya kita faham seutuhnya, prioritas kita adalah Allah, rosul, baru suami.
Q.S At-taubah: 41
Artinya: “berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwa di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.
Akhwatifillah…
 Bersegeralah dalam kebaikan apapun kondisi yang sedang kita hadapi, baik ringan maupun berat, bahkan usahakan kita memilih azimah daripada rukhsah, meskipun kita diperbolehkan untuk mengambil rukhsah. Biasakanlah mencari alasan untuk ikut mengambil bagian dalam sebuah kebaikan, bukan mengadakan beribu alasan untuk tidak menjadi bagian dalam sebuah kebaikan. Dan bermujahadahlah terhadap kebaikan yang sedang kita lakukan baik suka maupun tidak suka, baik nyaman maupun tidak nyaman, senang nmaupun tidak senang, selama hal itu lebih banyak mengandung manfaat daripada muhdharat. Paksalah diri untuk cenderung berbuat kebaikan, hingga paksaan menjadi kebiasaan, dan janganlah kita khawatir kerena Allah selalu menuntun dan bersama kita.